Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

fb

Minggu, 22 Desember 2013

Yang Membedakan

Ada seorang penyanyi besar, dia suka sekali bernyanyi, terkenal di mana-mana. Lagu2nya amat menginspirasi. Menghibur dikala sepi, menemani di kala lara, membangkitkan semangat dikala susah. Pada suatu hari, seorang wartawan bertanya kepada beliau ini, wahai om penyanyi, kenapa Anda menyukai menyanyi? Apakah Anda akan tetap bernyanyi jika orang2 tidak mau mendengarkan Anda lagi? Maka, jawaban penyanyi ini simpel(sambil tersenyum tulus): "Saya menyukai menyanyi karena itulah kesenangan terbesar saya. Dan bagi saya, ada atau tidak ada orang yang mendengarkan, saya tetap akan menyanyi. Tidak berhenti."

Ini jawaban yang seolah terlalu menyederhanakan karir menyanyinya yang luar biasa. Tapi jika dipikirkan, itu justeru jawaban paling cemerlang, kristal dari seluruh kehidupannya. Dia ternyata bernyanyi simpel karena dia suka melakukannya, urusan lain, mau terkenal, mau top, mau apalagi kek, itu urusan belakangan. Dia bernyanyi simpel karena itu membuatnya hepi, dan bukan urusan dia soal yang lain, orang mau suka, orang mau benci. Dia tidak berhitung soal berapa juta album laku terjual, berapa jumlah followernya, berapa uang yang bakal dia terima, dsbgnya, dsbgnya. Itulah sesungguhnya pemahaman yang membedakan antara penyanyi abal2 dan penyanyi sungguhan.

Sayangnya, di dunia ini berapa banyak orang2 punya pemahaman yang justeru terbalik?

Apakah penulis membutuhkan pembaca? Penulis yang baik tidak membutuhkan pembaca, karena kalau dia memang suka menulis, aktivitas tersebut minimal menyenangkan bagi dirinya sendiri. Meluruhkan rasa sebal dan marah. Meluruhkan sesak dan gulana. Tulis, lantas posting, letakkan di mana dia mau meletakkannya. Cukup dia sendiri saja yang baca, sudah sangat bermanfaat. Sisanya, bukan urusan dia lagi. Keliru sekali jika kita baru memulai menulis, di kepala kita sudah dipenuhi dengan: besok lusa novel2 sy bakal top, royalti melimpah, bisa keliling dunia, difilmkan, dsbgnya. Karena jika itu yang kita pikirkan, satu saja tulisan kita tidak ditanggapi orang2, kolom komennya sepi, kita stres sendiri, lantas komen dan like sendiri atas tulisan tersebut.

Saat kita bekerja di sebuah kantor, apakah kita memerlukan pujian dari atasan? Memerlukan penghormatan dari bawahan? Maka jawabannya tidak, dek. Pekerja yang baik, dia hanya fokus pada: bahwa pekerjaannya adalah ibadah dan dia akan melakukan yang terbaik. Bodo amat jika orang2 di sekitarnya menjilat, sikut2an, dia tidak ikut2an, apalagi ikut mengeluh, ikut nge-gosip, ngomongin kapan naik gaji, kapan bonus datang, dsbgnya. Baginya simpel, cukup bekerja dengan baik, karena dia suka atas profesi tsb, pekerjaan itu menjadi penghiburan baginya. Membuatnya bahagia.

Pun sama penjelasannya saat kita jadi PNS, dokter, guru, bidan, apoteker, insinyur, akuntan, dsbgnya, dsbgnya maka akan selalu ada pemahaman PEMBEDA yang jelas sekali antara satu orang dengan pemahaman baiknya versus orang lain dengan pemahaman dangkalnya.

Nah, kabar buruknya, dalam kaca mata dunia, ukuran2 materi, nasib dua orang dengan pemahaman beda tersebut bisa terbalik juga. Yang lurus hanya ingin bekerja sebagai ladang ibadah, berpuluh tahun hanya begitu2 saja karirnya, sedangkan yang habis2an sikut2an, menjilat, menyuap, bisa melesat jadi bos dan kaya raya. Tapi tidak mengapa. Itu tidak akan membuat kita berhenti untuk memiliki pemahaman pembedanya. Karena apa? Duh, kebahagiaan di dalam hati itu tidak bisa ditipu. Kitalah yang tahu persis apakah kita hepi atau tidak. Karena banyak, orang2 yang telah memiliki segalanya, justeru hidupnya hanya topeng saja, karena dia tidak memiliki pemahaman terbaik dalam hatinya. Terus merasa kurang, tidak pernah cukup.

Kembali lagi ke soal penyanyi tadi. Mengapa dia suka menyanyi? Simpel karena dia suka dan memutuskan akan menjadikan itu aktivitas penting. Dan sungguh beruntung penyanyi ini, ketika ternyata dia justeru merengkuh banyak hal dengan pemahaman sederhananya tersebut.

Dan sungguh beruntung pula kita, apapun profesi kita, saat kita memiliki alasan terbaik melakukannya, ternyata kesuksesan besar berbaris rapi mendekat. Kalaupun kita tetap begitu2 saja, toh, tidak mengapa, kita sudah menggenapi niat terbaiknya. Itu lebih dari cukup sebagai sumber energi kebahagiaan.



di post oleh Sangjurupati

Makan Malam Dan Masa Depan

Ada pasangan keluarga kaya raya, pemilik bisnis properti dan perdagangan besar di sebuah kota. Pasangan ini sudah separuh baya, dan hingga usia lewat 40 tahun, mereka tidak kunjung memiliki anak. Tidak memiliki keturunan yang diharapkan akan melanjutkan nama dan bisnis mereka. Situasi ini bukan hanya jadi beban pikiran keluarga tersebut, juga seluruh kota amat bersimpati atas situasi ini, karena jelas sekali, pasangan tersebut sudah kaya harta benda, pun kaya hatinya. Ringan membantu orang banyak.

Banyak usulan diberikan, saran2, dan setelah dipikirkan matang2, akhirnya pasangan tersebut memutuskan untuk mengadopsi anak. Mereka tidak akan mengambil anak2 usia balita, apalagi bayi, karena mereka tidak berniat memutus hubungan anak tersebut dengan orang tua kandung, mereka akan mengadopsi satu orang anak dengan usia 10-12 tahun, dibesarkan di keluarga mereka, dididik sebaik mungkin, agar memiliki kemampuan bisnis, perangai yang terpuji dan tentu bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Pasangan ini membentuk komite untuk menyeleksi ribuan anak2 di seluruh kota. Itu kabar besar, maka banyak orang tua yang berharap anak mereka diterima. Itu sungguh kesempatan besar. Maka mendaftarlah anak2 yang pintar, tampan, anak2 yang sehat, anak2 yang gesit, periang, jago olahraga, punya bakat seni, semua kriteria hebat yang mungkin seharusnya dimiliki oleh seorang anak penerus sebuah keluarga kaya raya yang baik hatinya.

Hingga akhirnya, setelah berbulan2 seleksi, terpilih 10 anak saja, 10 nama yang diserahkan oleh komite seleksi kepada pasangan itu. Nah, dari 10 nama itu, terselip salahsatu anak dengan catatan yang ganjil sekali. Dia bukan anak paling pintar, test menunjukkan biasa-biasa saja. Dia bukan anak paling gagah, malah sebenarya paling kurus dan seperti anak kebanyakan. Tidak memiliki prestasi olahraga atau seni. Hanya satu secara fisik yang terlihat menonjol, anak itu terlihat riang. Tapi, namanya anak2 pastilah begitu semua, bukan?

Beberapa anggota komite seleksi sebenarnya sejak awal sudah mau mencoret anak tersebut. Tapi karena istri dari pasangan tersebut yang juga anggota komite terlanjur menyukainya, maka namanya terus masuk hingga 10 besar. Istri pasangan itu tidak tahu kenapa dia harus menyukai anak kurus itu, meski dengan hasil test yang tidak mengesankan, dia hanya merasa, anak itu berbeda dari anak2 lainnya. Suatu saat akan terlihat buktinya.

Diundanglah 10 anak itu ke rumah pasangan kaya tersebut untuk melewati ujian terakhir. Simpel saja, pasangan itu mengajak 10 anak-anak tersebut makan malam di sebuah meja besar, bersama anggota komite seleksi. Maka singkat cerita, makan malam spesial itu digelar. Berjalan begitu menyenangkan, begitu ramah--karena jelas, pasangan itu adalah tuan rumah yang tulus, mereka menganggap anak2 usia 10-12 tahun itu sudah seperti bagian keluarga sendiri. Semua anak makan dengan santai, bercakap2, bercerita. Pun pasangan itu, mereka asyik bercerita tentang kisah masa muda mereka, jatuh bangun mendirikan bisnis, sejarah perusahaan, bisnis apa yang mereka lakukan, dan sebagainya. Itu kisah yang hebat.

Nah, dari makan malam itu, yakin sudah pasangan itu akan pilihan mereka. Komite seleksi pun akhirnya paham, kenapa pilihannya harus demikian.

Siapa yang dipilih? Anak kurus yang tidak jenius, tidak jago lari, tidak pandai berenang, dsbgnya. Apa yang dilakukan anak ini hingga berhak memperoleh pilihan istimewa tersebut? Sederhana sekali. Lihatlah, hampir satu jam makan malam tersebut, dialah satu2nya anak yang tidak pernah menyuruh orang lain mengambilkan makanan buatnya. Dia memilih meraih sendiri teko air, mengambil sup, mengambil daging, semua dilakukan sendiri. Pun saat harus bangkit berdiri, mengambil gelas sirup yang posisinya jauh darinya, dia bangkit mengambilnya. Dan dialah juga satu2nya anak yang tidak banyak bertanya saat pasangan kaya itu bercerita tentang sejarah perusahaan. Saat makan malam selesai, suami pasangan itu menepuk pundaknya, "Kenapa kamu tidak bertanya seperti anak2 lain?" Dia hanya menjawab pendek, "Tuan sudah bilang diawal makan malam kalau semua cerita itu ada di buku ruang perpustakaan. Aku sudah berjanji, akan membacanya sendiri, mencari tahu sendiri. Apakah aku boleh membaca buku2nya?"

My dear anggota page, 20 tahun berlalu sejak makan malam itu, maka jagoan kecil yang kurus ini tumbuh sesuai harapan orang tua angkatnya. Dia jelas bukan yang paling pintar, tapi dia yang paling tekun. Dia memilih mengerjakan hal2 kecil sendiri, apalagi hal2 besar. Dia tidak pernah menyuruh2 orang lain bahkan hanya untuk mengambilkan pulpen yang jatuh, minta ambilkan gelas minuman. Pasangan kaya itu jelas menemukan sifat yang sama saat mereka masih muda. Tekun. Si kurus itu juga adalah pembelajar yang tangguh, mencari tahu sebelum bertanya, mencari penjelasan sebelum melempar pertanyaan. Meski sebenarnya memang enak saja tinggal bertanya. Selesai. Tahu lebih cepat malah. Tapi dia memilih mencari tahu sendiri, agar mengerti lebih banyak.

Dengan didikan yang baik, jagoan kecil ini tumbuh menjadi orang dengan perangai baik, menghormati orang sebayanya, pun menghargai orang2 lebih muda dibanding dirinya. Tidak mengeluh, tidak mudah berputus asa. Tetap rendah hati dan tahu diri. Sebenarnya 9 temannya juga diberikan beasiswa, pendidikan oleh pasangan tersebut--meski tidak dididik di rumah langsung, tapi tidak ada yang tumbuh dengan prinsip2 kehidupan secemerlang si kurus.

Kejadian makan malam itu selalu spesial. Anak2 yang sedari kecil sudah paham banyak hal, maka apa yang dilakukannya juga cermin dari pemahamannya. Maka, mulailah berguna untuk diri sendiri. Jangan mudah menyuruh2, jangan mudah berteriak minta tolong, apalagi jika itu sebenarnya karena konyolnya kita--seperti mencari barang milik kita yang terselip di mana gara2 kita memang berantakan. Jangan mudah bertanya, dikit2 bertanya, padahal di sekitar kita bertumpuk buku yang bisa dibaca, bertumpuk akses pengetahuan yang bisa diambil. Memang enak sih, dikit2 nyuruh, dikit2 nanya, semua tinggal tunggu beres, tapi ketahuilah, besok lusa kita sendiri yang akan rugi dengan tabiat tersebut. Dan dimana proses belajarnya kalau semua orang ingin serba instan?

My dear anggota page, jadilah anak2 yang mandiri. Jadilah remaja2 yang tahu persis harus melakukan apa. Maka kalian akan tumbuh lebih tangguh dibandingkan siapapun. Apakah kisah ini nyata? Silahkan tanya ke orang2 dewasa di sekitar kalian, ke orang tua kalian, boleh jadi mereka punya cerita yang sama persis soal ketekunan, soal pembelajar yang baik, dan harga mahal yg harus dibayar bagi orang2 yang menggampangkan prosesnya. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita tidak perlu mengalami sendiri bagian yang tidak menyenangkannya.



di post oleh Sangjurupati

Urusan Perasaan,Perasaan Dan Perasaan

Saya akhirnya menulis tentang ini, sebenarnya akan lebih baik jika kalian berproses menemukan pemahaman ini, proses yg kelok-kelok, terjaga, penuh kehormatan, selamat tiba di ujungnya. Itu akan lebih spesial, membekas, lantas mengenang semuanya sambil tertawa, ah, dulu ternyata semua itu lucu ya. 

Tapi baiklah, karena page sy ini persentase anggota remajahingga usia 22-nya tinggi sekali, dan jika sy tdk hati2, malah bisa salah paham, ada yg seolah2 mendapatkan pembenaran, maka akan sy rangkum beberapa poin penting urusan perasaan menurut versi tere liye (yg akan kalian jumpai paralel konsepnya dgn di novel, buku2).

1. Jatuh cinta itu manusiawi. Urusan perasaan, urusan membolak-balik hati itu adalah milik Allah. Boleh jatuh cinta? Ya boleh, tidak ada ulama dari mazhab manapun yg melarang jatuh cinta lawan jenis, mengharamkannya. Apalagi, duhai, seperti terjatuh, kita tdk pernah tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Tiba2 perasaan itu sudah mekar tak berbilang.

2. Lantas, kalau kalian jatuh cinta, so what? Nah, ini bagian yg menariknya. Kalian mau menyatakan perasaan itu? Lantas so what? Kalian mau dekat2 dgn seseorang itu? Kalian mau telpon2an, tahu dia sedang apa, apakah bisulnya sudah sembuh, apakah panunya tidak melebar, apakah konstipasinya sudah hilang, sudah bisa ke belakang? Kebanyakan di usia remaja, hingga 20-an something, lantas kemudiannya ini yg tidak jelas. Pacaran? Tidak pacaran? Langsung menikah?

3. Ketahuilah, kita hidup dalam norma2, nilai2, batasan2 yg harus dihormati. Kecuali kalau kalian menolak norma2, nilai2, batasan2 tersebut, silahkan (dan berhenti sudah meneruskan membaca notes ini, karena kalian sudah tdk se-zona waktu lg dgn tulisan ini). Itu benar, memiliki perasaan itu kadang serba salah, makan tak enak, tidur tak enak. Itu benar, ada keinginan utk tahu apakah seseorang itu balik menyukai, keinginan utk bilang, cemas nanti dia digaet orang. Tapi kalau hanya ini argumen kalian, oh dear, orang2 sakau, ngobat, lebih tersiksa lagi saat dipisahkan dr hobinya tersebut. Mereka bisa mencakar2, bahkan melukai diri sendiri hingga begitu mengenaskan dan (maaf) is dead. Sy rasa, seingin apapun kalian jumpa dia, paling cuma nangis, tidak akan mati. Itulah kenapa hidup kita ini punya peraturan, agar semua orang bisa punya pegangan, selamat dr merusak dirinya sendiri. Sy tdk akan menggunakan dalil2 agama dalam notes ini--karena orang2 yg pacaran, kadang risih mendengarnya. Jadi kita sama2 kuat, sy pakai logika kalian sj.

4. Tapi saya harus bilang agar lega, bagaimana dong? Ya silahkan saja kalau mau bilang. Tapi camkan ini baik2, cinta sejati adalah melepaskan. Catat itu baik2, tanyakan pd pujangga kelas dunia, hingga pujangga amatiran narsis tere liye, semua bersepakat, cinta sejati adalah melepaskan, lepaskan dia jauh2, maka kalau memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terjadi. Jadi? Kalau kalian belum jelas so what-nya, lantas kemudian mau apa setelah bilang, maka mending ditahan, disimpan dalam hati. Tuhan itu mendengar, bahkan desah tersembunyi anak manusia di pojok kamar paling gelap, paling sudut, di salah-satu kampung paling terpencil, paling jauh dari peradaban, paling tdk ada aksesnya. Jodoh itu misteri. Kalau nggak pakai usaha, nanti nggak dapat, gimana dong? Tentu saja usaha, tapi bukan dengan pacaran. Usaha terbaik mencari jodoh adalah: dgn terus memperbaiki diri. Nggak paham, kok malah aneh, malah disuruh memperbaiki diri. Ya itulah, dalam banyak hal, kalau kita nggak nyambung, memang nggak ngerti. Misalnya, banyak orang yg mikir kalau mau dapat ikan itu harus mancing di sungai. Padahal sebenarnya sih, kalau mau ikan, ya tinggal pergi ke pasar ikan. Lebih tinggi kemungkinan dapat ikannya--asumsinya punya uang.

5. Tapi apa salahnya pacaran? Boleh2 saja dong? Saya justeru merasa lebih semangat, lebih kreatif, lebih apa gitu setelah pacaran? Nah itu dia, kalian benar2 menyimpan bom waktu jika meyakini pacaran itu memberikan energi positif. Pacaran itu bentuk hubungan, dan sebagaimana sebuah bentuk hubungan antar manusia, posisinya rentan rusak, gagal, dan binasa. Boleh jadi betul, riset canggih akademik membuktikan orang2 pacaran bisa memperoleh motivasi baik, tapi saya, tidak akan memilih menggunakan 'pacaran' sbg sumber energi, mengingat sifatnya yg temporer sekali. Mending sy milih kekuatan bulan, jelas2 bulan itu sudah ada milyaran tahun, pacaran paling mentok hitungan jari tangan bertahannya.

6. Baik, baik, lantas kalau tidak boleh pacaran, gimana dong? Kongkretnya apa yg harus sy lakukan? jawabannya mudah: Tidak ada yg perlu dilakukan. jatuh cinta, alhamdulillah, itu berarti tanda kita normal. lantas? Biarkan saja. Sibukkan diri sendiri dgn hal2 positif, isi waktu bersama teman2, keluarga. Belajar banyak hal, mempersiapkan banyak hal. Hanya itu. Nggak seru, dong? Lah, memangnya kalau pacaran seru? Paling juga cuma nonton ke manalah, pergi kemanalah. Pacaran itu seolah seru, karena dunia telah menjadi etalase industri entertainment. Pesohor2 menjadi teladan--padahal akal sehat siapapun tahu itu bahkan rendah sekali nilainya. Dari jaman batu, hingga kelak dunia ini game over, pegang kata2 saya: menghabiskan waktu bersama orang tua, kakak, adik, teman2 terbaik selalu paling seru. Apalagi jika ditambah dgn terus belajar, produktif, dsbgnya.

7. Lantas bagaimana sy melewati masa2 galau ini? Lewati seperti kebanyakan remaja lainnya. Lurus. Boleh kalau kalian mau menulis diary tentang perasaan2 kalian. Boleh galau menatap langit2 kamar. Boleh cerita2 curhat sama teman dekat dan orang tua. Boleh, tapi ingatlah selalu perasaan itu punya kehormatan. Kalian pasti sebal kan lihat teman sekelas yg tiba2 datang ke sebuah pesta ultah (padahal dia tidak diundang), sudah tdk diundang, makannya paling banyak, teriakannya paling kencang, paling gaya, norak, tidak tahu malu. Nah, ada loh--bahkan banyak-- orang2 yg tdk sadar kalau dia sebenarnya juga norak dan tidak tahu malu dalam urusan perasaan. Ya, kita sih kadang tdk merasa kalau sudah genit, ganjen, lebay. Sy tahu, istilah menjaga kehormatan perasaan ini boleh jd susah dipahami, tapi itu nyata, orang2 yg bisa menjaga perasaannya, maka se galau apapun dia, sesengsara apapun dia menanggung semua perasaan, besok lusa, kemungkinan untuk tiba di ujungnya dgn selamat akan lebih besar. Jangan coba2 berdua2an, jangan coba2 pergi kemanalah hanya berdua, bergandengan tangan, dsbgnya. Itu benar2 menghabisi kehormatan kalian.

8. Nah, bersabarlah. Tunggu hingga kalian memang telah siap. Jika sudah yakin, silahkan kirim sinyal2, menyatakan perasaan, lantas silahkan libatkan orang tua. Btw (masih ngeyel), tapi banyak juga orang2 yg menikah tanpa pacaran bercerai, kok. Dan sebaliknya, orang2 yg pacaran malah langgeng? Itu benar. Sama benarnya dgn banyak orang2 yg mabuk2an, ngobat, tetap saja umurnya panjang. Eh, ada tetangga, alimnya ampun2an, malah meninggal lebih dulu. Harusnya kan kalau mereka melanggar peraturan, langsung ada petir menyambar. Menikah, membina keluarga, langgeng atau tdk, bahagia atau tidak, boleh jadi tdk ada korelasinya dgn pacaran atau tidak. Kita mungkin tdk pernah tahu misteri ini, tapi dengan menjalani prosesnya dgn baik, mengakhirinya dgn baik, semoga fase berikutnya berjalan dgn baik.

Sy konsen sekali masalah pacaran ini, karena sy tdk ingin kalian menghabiskan masa2 penting kalian utk urusan perasaan yg sebenarnya di usia kalian tdk penting2 amat. Dan sy harus bilang, orang2 yg paham, mengerti benar bahwa pacaran adalah pintu gerbang pergaulan bebas. Itu mengerikan. Masa' kalian mau dekat2 dengan pintu yg ada tandanya 'pergaulan bebas'. Saya bisa menjaga diri kok, tenang saja. Well, rasa2nya tidak ada orang di muka bumi ini, di zaman sekarang, yg bisa bilang dia sempurna bisa menjaga dirinya. Kalau bisa, maka setan akan gigit jari.

Sy membuat beberapa novel tentang perasaan, semoga itu bisa menjadi salah-satu alternatif kalian memahami beberapa poin di atas, hidup ini memiliki batasan2 yg tdk bisa dilanggar, bahkan sekuat apapun cinta tsb. Selalu ambil sisi positif dlm cerita2 tsb, lihat dr sudut pandang berbeda, maka boleh jd kalian akan menemukan pemahaman baru yg baik. Bukan sebaliknya, mengambil yg bisa memberikan argumen buat kalian--karena namanya novel, tentu sj sy harus memasukkan tokoh2 buruk, jahat. Sy juga menumpahkan banyak postingan soal ini, konsen saya.

Sy benar2 tdk bisa melakukan hal yg lebih kongkret dalam urusan ini, selain dgn tulisan2. Tapi itu hanya tulisan2. Itulah kenapa sy sangat menghormati guru2, orang2 dewasa, orang tua di sekitar remaja yg lebih kongkret, secara terus menerus menanamkan pemahaman itu ke remaja2 mereka. Dan di atas segalanya, yg akan membuat itu berhasil atau tidak, adalah kalian sendiri.

Mari kita janjian, yuks, hari ini, 13 September 2012, maka dua puluh tahun lagi, 2032, kalau umur kita panjang, dan kalian masih ingat postingan ini, kenanglah kembali masa remaja, masa usia 20-an something kalian. Rasa2nya sy bisa menebak, kalian akan nyengir mengingatnya. Boleh, nanti tiba2 mengirimkan email ke saya, Bang tere, sy masih ingat postingan 20 tahun lalu itu--asumsi sy masih ber narsis ria di mana2. Dan Bang tere ternyata salah. Boleh. Atau kalau sebaliknya, tentu saja boleh, kirim email, bilang, ternyata Bang tere benar.

*repos naskah lama tanpa edit tanggal, dll



di post oleh Sangjurupati

Keberanian Dan Penghianatan Kadang Beda Tipis

Apakah ada yang kenal dengan Johannes van Luyn dan Jan Massen? Saya juga tidak kenal, saya baru tahu mereka. Usia mereka sekarang 80 tahun lebih, dan mereka sedang berusaha membersihkan nama mereka. Apakah nama mereka kotor? Iya dan tidak, jawabannya, tergantung kaca mata orang melihatnya.

Tahun 40-an, ketika Belanda kembali menjajah Indonesia setelah meletus perang dunia ke-2 yang dimenangkan sekutu, dua orang Belanda ini ditugaskan ke Indonesia. Mereka menolak habis2an, tidak mau pergi menjadi bagian tentara yang menjajah. Pihak militer Belanda berang, maka dijebloskanlah dua orang ini dengan tuduhan serius: Pengkhianat. Dua orang ini masuk penjara 2 tahun lebih demi berdiri tegak secara prinsip, menolak perintah gila, pergi menjajah negeri orang lain.

Di mata pemerintah Belanda saat itu, tindakan dua orang ini jelas buruk, aib, nama mereka menjadi tercela seketika. Bahkan boleh jadi, bagi mayoritas warga Belanda saat itu, penolakan dua orang ini memalukan, shame on you. Pengecut, pengkhianat, dsbgnya. Mana ada pemerintah/militer Belanda saat itu mau berpikir secara logis, adil, dan dipenuhi prinsip2 kebaikan. Mereka semua satu pemikiran, menjajah adalah tindakan yang mulia. Yang tidak mau ikut menjajah, masukkan ke penjara.

Frankly speaking, saya sedih membaca kisah dua Opa2 ini. Dan lebih sedih lagi, hei, tidakkah kita mau menyadari, hingga hari ini, kejadian ini masih saja sering terjadi. Ada banyak orang2 yang terjebak dalam lumpur pemikiran membela kelompok, keluarga, kesetiaan, kebersamaan, dsbgnya, hingga lupa, kalau mereka adalah bagian dari pemikiran yang berbahaya sekali. Kenapa pemerintah/militer Belanda dulu tidak bisa melihat pemahaman baiknya? Karena ambisi dan kepentingan. Tertutup sudah, sama dengan hari ini, ketika ambisi dan kepentingan menyelubungi, hasrat busuk akan menyebar di atas kepala kelompok tersebut, dan tutup mata dengan fakta. Benar2 tutup mata, yang penting kelompoknya.

Dan kelompok itu tidak selalu harus sekte agama sesat, geng motor, preman, dan sebagainya yang memang terlihat berbahaya, kelompok itu bisa berbentuk apa saja, organisasi apa saja, silahkan pikirkan saja masing2, apakah kita aman dari cari berpikir kelompok. Saya tidak perlu mendaftarnya, toh, kalianlah yang lebih tahu. Ekstrem sekali membela habis2an logika versi diri sendiri.

Hari2 ini, Van Luyn dan Jan Massen sedang mengajukan proses hukum ke Mahkamah Agung di Den Haag untuk memulihkan nama mereka. Sungguh dua orang ini, meski di tahun 40-an mungkin jadi common enemy bagi pemerintah Belanda di tanah kelahirannya sana, bisa membahayakan keberlangsungan penjajah, dua orang ini sungguh adalah contoh betapa gagahnya keberanian melawan pola pikir. Mereka membayar mahal keberanian tersebut: masuk penjara. Tapi harga melawan sesat pemikiran/keberpihakan kelompok sendiri memang tidak pernah murah, disebut pengkhianat adalah hal biasa. Tapi kita tahu persis, apakah penolakan dua orang ini sejatinya aib, atau justeru tindakan paling berani.

Demikian.

*Tere Liye, repos catatan lama



di post oleh Sangjurupati

Jodoh Terbaik

Ada seorang atlet dunia yang mengagumkan. Saat ditanya, apa rahasia terbesarnya hingga dia berkali-kali memecahkan rekor dunia? Jawabannya pendek: saya bertanding melawan diri sendiri, saya berusaha terus menerus mengalahkan diri sendiri. Ini sesungguhnya jawaban yang super, menjelaskan banyak hal. Tapi bagaimana bisa dia jadi juara dunia jika dia hanya sibuk melawan dirinya sendiri? Bukankah dia harus peduli dengan catatan waktu pesaingnya? Bagaimana pesaingnya berlatih? Kemajuan pesaingnya. Tidak, dia tidak peduli. Baginya, setiap hari menjadi lebih baik, setiap hari memperbaiki rekor sendiri, jauh lebih penting dibanding memikirkan orang lain. Maka itulah yang terjadi, resep ini berhasil, berkali-kali dunia menyaksikan atlet hebat ini memecahkan rekor dunia, rekor yang tercatat atas nama dirinya sendiri. Jika dia hanya sibuk memikirkan orang lain, boleh jadi dia hanya berhasil memecahkan rekor itu sekali, lantas berpuas diri, merasa cukup. Game over.

Logika memperbaiki diri sendiri dan terus melakukan yang terbaik ini sangat efektif dalam banyak hal. Sekolah misalnya. Kita tidak perlu peduli kita ranking berapa, kita lulusan terbaik atau bukan, sekolah terbaik atau bukan, pokoknya belajar yang terbaik, maka lihat saja besok lusa, ternyata semua hal datang dengan sendirinya, termasuk ranking dan kesempatan melanjutkan di tempat lebih baik. Juga pekerjaan. Kita tidak perlu peduli siapa pesaing di sekitar, siapa yang akan menyalip dsbgnya, posisi dsbgnya, pokoknya bekerjalah yang terbaik, memperbaiki diri sendiri secara terus menerus. Maka, lihat saja besok lusa, semua pintu2 kesempatan akan terbuka dengan sendirinya.

Nah, termasuk mencari jodoh. Rumus ini juga berlaku sama sederhananya. Teruslah memperbaiki diri, maka besok lusa, jodoh terbaik akan datang.

Banyak orang yang berpikir sebaliknya, sibuk pacaran, sibuk cari2 perhatian, sibuk jatuh hati, sibuk 'mencari jodoh'--di usia dini sekali. Itu benar, kita boleh jadi segera mendapatkan yang diinginkan tersebut, tapi hanya sebatas itulah definisi jodoh terbaik yang kita dapatkan. Berbeda jika dengan sibuk memperbaiki diri. Terus sekolah dengan baik misalnya, belajar apa saja. Termasuk belajar ilmu agama, semakin bermanfaat bagi sekitar, mencemerlangkan akhlak, maka jalinan silaturahmi akan semakin luas, membuat kesempatan bertemu dengan jodoh terbaik lebih lebar. Dengan terus memperbaiki diri, kita bisa mengenal banyak orang, paham banyak karakter, memiliki prinsip2 yang baik, dan itu lagi-lagi membuka lebih lebar kesempatan bertemu dengan jodoh terbaik.

Bayangkan saja seseorang yang hanya tinggal di sebuah kampung, sibuk pacaran di kampung itu saja, menikah. Selesai. Itulah ruang lingkup jodoh terbaiknya. Sebaliknya seorang remaja puteri, yg memilih terus belajar memperbaiki diri sendiri, bodo amat teman2nya sudah pacaran, dengan terus belajar dia bisa membuka pintu sekolah di kota lain, bertemu dengan banyak orang, dengan belajar agama dia memiliki prinsip2 hidup yg baik, bisa memilih teman bergaul yang baik, hingga akhirnya bertemu dengan jodoh terbaiknya. Dia berhasil meningkatkan berkali-kali lipat kesempatan jodoh terbaiknya. Bukan cuma si cowok paling ganteng di kampung tersebut--yang ditaksir gadis sekampung.

Nah, apakah dengan terus memperbaiki diri menjamin mendapatkan jodoh terbaik? Tidak. Memang tidak. Tapi rasa-rasanya, jika proses terus memperbaiki diri itu dilakukan dengan baik, kalian akan berbahagia dengan apapun situasi yang akan dihadapi. Jadi kalaupun dia gagal memberikan jodoh tampan macam anggota boyband korea, atau baik hati pol macam poh si kungfu panda, dia sukses memberikan sesuatu: pemahaman yg baik, bekal hidup yang baik. Dan kalian siap dengan takdir apapun dari Tuhan.



di post oleh Sangjuruti

Pengorbana Seberapa Banyak?

Kenapa ibu rumah tangga itu mulia sekali? Kenapa? Karena dia membesarkan anak2? Bukan itu jawabannya, karena banyak orang yang bisa membesarkan anak2 sama baiknya dgn mereka, baby sitter misalnya, dibayar. Karena dia mendidik anak2? Bukan. Karena toh juga banyak yang bisa mendidik anak2 lebih baik, guru, trainer, instruktur misalnya. Semakin profesional, semakin jago--meski semakin mahal bayarnya.

Kenapa ibu rumah tangga itu mulia sekali? Jawabannya adalah: karena mereka mengorbankan hidup mereka demi orang2 di sekitarnya berkembang. Pengorbanan, itulah kata kuncinya.

Sungguh, tidak terbilang ibu rumah tangga yang bisa saja jadi wanita karir, bisa menggapai CEO, direktur, tapi dia memilih menjadi ibu rumah tangga di rumah saja. Tidak terbilang ibu rumah tangga yang bisa jadi profesor, doktor, jadi apapun yang mereka mau karena pintar dan brilian. Tidak terbilang dari mereka yang bisa jadi Presiden, Menteri, astronot, dokter, artis, apapun itu, tapi ketika mereka memilih menghabiskan waktu menjadi ibu rumah tangga, mereka telah mengambil langkah yang amat mulia: mengorbankan hidup mereka demi membesarkan dan mendidik anak2nya, mendukung suaminya dari belakang, menjadi orang dibalik layar. Mereka mengorbankan hidupnya agar orang disekitar berkembang.

Kenapa menjadi guru itu amat mulia? Juga sama rumusnya, karena guru2 terbaik, hei, sejatinya guru2 terbaik ini bisa sukses kalau dia mau jadi pengusaha, mau jadi insinyur, tapi mereka memilih mengajar dengan kesadaran penuh, dengan kecintaannya. Mereka mengorbankan hidupnya dengan cukup menjadi guru saja, mendidik anak2, agar anak2 ini berkembang baik, menjadi kebanggaan. Tahu resikonya, tidak akan kaya raya dengan jadi guru. Jalan yang dia pilih. Itulah kenapa guru amat mulia.

Disekitar kita, banyak sekali jenis pengorbanan yang indah. Sebatang lilin membiarkan tubuhnya meleleh demi terang sekitar. Seorang Ibu rela hidup-mati demi melahirkan anak tersayang. Seorang Ibu rela tidak beli baju demi anak2nya beli baju. Tidak tidur demi anak2nya tidur. Pengorbanan2 yang mengharukan. Dan kita, Kawan, selalu bisa mengambil jalan itu, jalan pengorbanan. Bersedia menukar hidup kita demi kebahagiaan orang2 yang kita sayangi.

Ketahuilah, semakin lapang hati kita memilihnya, semakin lega, maka semakin indah jalan pengorbanan itu. Dilakukan penuh kesadaran, dilakukan penuh ihklas dan tulus. Biarlah, biarlah orang2 yg kita cintai berkembang, orang2 menggapai cita2, mimpi2 terbaiknya, kita memutuskan menjadi jalan terbaik bagi mereka, men-support, mendukung. Nama kita boleh jadi tidak akan diukir di prasasti, nama kita boleh jadi tidak akan diingat siapapun. Tapi kita akan selalu mengukir, mengingat ketulusan pengorbanan yang kita lakukan. Itulah kenapa Ibu rumah tangga amat mulia dan spesial. Mereka adalah pahlawan dalam sebuah pertempuran besar egoisme, keinginan diri sendiri.

Selamat hari Ibu. Salah-satu profesi yang penuh pengorbanan.

*Saya tidak akan menyuruh kalian like, atau amin, atau apalah kalau kalian suka tulisan ini. Tapi saya akan menyuruh kalian sejenak saja memikirkan akan jadi orang tua seperti apa kita kelak jika sudah berkeluarga. Selamat memikirkan.



di post oleh Sangjurupati

Semoga Bunda Disayang Allah

Bunda,
Saat kami bayi, engkau orang terakhir tidur setelah dunia lelap,
bahkan boleh jadi tidak tidur, agar kami bisa nyenyak.
Dan engkau pula yang pertama kami lihat saat terjaga.

Bunda,
Saat kami kanak-kanak, engkau orang terakhir yang putus rasa sabarnya,
bahkan boleh jadi tidak pernah, walau orang2 lain telah jengkel setengah mati
Dan engkau pula yang pertama membesarkan hati.

Bunda,
Saat kami gagal, engkau orang terakhir yang berputus asa,
bahkan boleh jadi tidak pernah, meski seluruh dunia sudah berhenti berharap
Dan engkau pula yang pertama menghibur.

Bunda,
Saat kami sakit, engkau orang terakhir yang bertahan menemani,
bahkan boleh jadi tidak pernah pergi, meski sekitar telah kembali sibuk
Dan engkau pula yang pertama berbisik kabar kesembuhan.

Bunda,
Saat kami ragu2, engkau orang terakhir yang hilang keyakinan,
bahkan boleh jadi tidak pernah pergi, meski sekitar telah menyerah
Dan engkau pula yang pertama berbisik tentang janji-janji.

Walaupun,
Saat kami besar, boleh jadi engkau orang terakhir yang kami hubungi,
bahkan boleh jadi tidak pernah, karena alasan sibuk atau apalah

Walaupun,
Saat kami bahagia, boleh jadi engkau orang terakhir yang tahu,
bahkan boleh jadi benar2 amat terlambat, karena alasan tidak sempat atau apalah

Bunda,
Di antara bisik doa-doa-mu, sungguh terselip beribu nama kami
Dan boleh jadi itulah yang membawa kami hingga seperti hari ini
Engkau orang terakhir yang akan berhenti mendoakan kami,
bahkan boleh jadi tidak pernah berhenti, hingga akhir hayat.
Dan sungguh, Engkau pula orang pertama yang mengucapkan kata Amin bagi kami.

*Tere Liye




di post oleh Sangjurupati

Jumat, 20 Desember 2013

SAJAK BICARA CINTA



Bicara cinta kepada orang yang terlanjur membenci
Maka seluruh pembicaraan kita dianggap kebencian semua 

Bicara hal2 paling masuk akal pada orang yang terlanjur tidak rasional
Maka seluruh perkataan kita dianggap tidak masuk akal semua 

Bicara penuh lapang dada dan lega kepada orang yang sumpek
Maka seluruh kalimat kita dianggap sumpek semua 

Bicara kencang-kencang kepada orang yang tidak mau mendengarkan
Maka seluruh seruan kita dianggap angin lalu, radio bisu

Bicara kebenaran nyata kepada orang2 yang memiliki versi kebenaran sendiri
Maka seluruh pembicaraan kita dianggap dusta semua

Sungguh, menjelaskan kepada orang yang tidak mau menjelaskan
Sebaik apapun cara kita melakukannya
Selemah lembut apapun, penuh hikmah, trik apapun
Tetap akan mental, tidak akan berguna

Selalu begitu rumusnya
Maka jangan habiskan waktu
Fokuslah pada kebaikan, segera melesat maju



Di Post Oleh Sangjurupati

Kamis, 19 Desember 2013

MEMILIKIMU

Saya mencintai sunset, 
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah, 
kalaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyayangi serumpun mawar
berbunga warna-warni, mekar semerbak
Tapi saya tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar
tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah saya lakukan

Saya mengasihi kunang-kunang
terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap
Tapi saya tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan
tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki

Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang

Egois sekali, Kawan, jika tetap kau lakukan.
Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari
Tiada lagi indah langit tanpa purnama
Juga taman tanpa mawar merekah
Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati

Selalu begitu, hingga akhir nanti.

*Tere Liye


DI POST OLEH SANGJURUPATI

RUMUS WARISAN

Dalam mekanisme kita hari ini, logikanya akan berjalan seperti ini:

1. Untuk memperoleh UANG, orang2 harus BEKERJA
2. Untuk BEKERJA, orang2 harus memiliki PENDIDIKAN
3. Untuk memiliki PENDIDIKAN, orang2 harus punya UANG.

Maka, siklus ini kembali lagi ke UANG, dan seterusnya, dan seterusnya. Rumus ini diwariskan oleh orang2 tua kita, menjadi model pemahaman orang banyak, dan kita seolah lupa untuk mulai bertanya2, apakah hidup hanya akan dihabiskan dengan rumus warisan seperti ini?

Bagaimana mungkin kita akan bekerja dengan bahagia, tulus, senang, jika tujuan kita selalu uang? Bagaimana mungkin kita bisa menjadikan pekerjaan kita sebagai ladang ibadah jika di otak kita pikirannya hanya untuk uang? Kita mewarisi rumus ini begitu saja, jika ada yang mengajak berpikir, bagaimana mungkin? Kita langsung bergegas bilang: 'kalau kagak ada uangnya, bro, ente mau makan apa? mau ngasih apa anak-istri?"

Bagaimana mungkin kita mengenyam pendidikan, sekolah hanya untuk tujuan agar besok lusa bisa bekerja dan mendapatkan gaji tinggi? Aduh, itu merusak sekali hakikat pendidikan terbaik. Orang2 sibuk mencari sekolah favorit, universitas favorit, simply kalau ditanya, agar besok lusa lebih nyari pekerjaan, terjamin masa depannya. Kita juga mewarisi rumus ini begitu saja, jika ada film, buku, tulisan penuh inspirasi tentang hakikat pendidikan, memang sih kita insyaf sejenak, tapi besok lusa, kembali sikut2an. Lucu sekali kalau kita sekolah hanya mengejar ijasah? Persentase kelulusan? Hingga sekolah dengan tega melakukan nyontek massal demi capaian matematis tersebut. Buat apa?

Dan siklus ini dengan teganya kembali ke muasal lagi, sekolah2 mahal, pendidikan mahal. Untuk menjadi dokter, mahal sekali. Untuk masuk TK/SD, mahal sekali. Karena rumusnya sudah begitu, untuk memiliki pendidikan, orang2 harus punya uang. Besok lusa jika pendidikannya sukses, maka dia memperoleh pekerjaan bagus, dan jika pekerjaannya bagus, besok lusa dapat uang. Untuk apa? Muter lagi siklus ini di anak2 kita, cucu2 kita, dan seterusnya.

Maka, semoga ada yang mau memikirkan ulang rumus ini bagi dirinya sendiri dan bagi keluarganya besok kelak. Boleh saja memang sekolah demi pekerjaan masa depan, demi gaji tinggi, boleh. Tapi jika kita meletakkan tujuan pendidikan pada hakikatnya: belajar. Kita bisa memperoleh sekaligus semuanya. Bahagia ketika sekolah (bodo amat sekolah/kampus kita tidak ngetop), bahagia ketika belajar (bodo amat fakultas/jurusan kita tidak keren); lulus dengan kejujuran terbaik, memperoleh ilmu terbaik, lantas kemudian, pasti akan hadir pekerjaan yang kita sukai. Hal kecil, jika ditekuni dengan baik, dan kita menjadi terbaik di bidang itu, tetap saja membuat hidup kita berkecukupan.

Kita tidak akan mudah mengeluh, tidak dikit2 membanding2kan dengan orang lain, tidak akan sibuk pamer, sombong, bangga hati, saya lebih keren, jika memiliki rumus yang berbeda. Rumus pemahaman baiknya. Apa itu? Bahwa kenapa kita bekerja? Karena itu ladang ibadah terbaik, penuh dengan kesempatan berbuat baik. Kenapa kita sekolah? Karena lurus untuk mencari ilmu terbaik untuk kehidupan terbaik milik kita besok lusa.

Demikian.



di post oleh Sangjurupati

Rabu, 18 Desember 2013

LAGU ANAK-ANAK DAN CINTA



Apakah cinta kita kelak seperti balonku ada lima?
Maka jangankan "balonku tinggal empat", satu balon tersisa atau tidak ada sama sekali pun
Tetap kupegang erat-erat?

Apakah cinta kita kelak seperti naik-naik ke puncak gunung? 
Maka jangankan "kiri-kanan kulihat saja, banyak pohon cemara", 
Bahkan kiri-kanan kulihat saja, banyak jurang terjal, kita tetap mendaki hingga tinggi-tinggi sekali?

Apakah cinta kita kelak seperti lihat kebunku penuh dengan bunga?
Pun tidak ada "mawar melati, semuanya indah"
Hanya ada semak berduri, semuanya tetap indah? Dan "setiap hari kusiram semua"

Apakah cinta kita kelak seperti nenek moyangku orang pelaut?
Yang sungguhlah kita akan selalu "menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa"

Aduhai, ternyata cinta bisa diilustrasikan seperti lagu kanak-kanak.
Maka, sungguh, sebagai penutupnya, kawan
Kita simpan yang terbaik.

Apakah cinta kita kelak seperti "burung kakak tua hinggap di jendela?"
Meski pasangan kita sudah 'giginya tinggal dua', kita akan selalu tetap cinta?

Alamak.

*Tere Liye



di post oleh Sangjurupati

MENGERINGKAN LAUTAN

Saya mendatangi seorang guru yang bijak. Tapi guru ini rumit sekali, ilmu yang dibagikan olehnya selalu tidak langsung, penuh teka-teki dan perumpamaan. Padahal saya datang hanya untuk sebuah pertanyaan. Saya bilang, "Guru, bagaimana agar saya merasa cukup?"

Saya mengeluh dalam hati, ini akan jadi percakapan yang sulit, lihatlah, guru hanya menatap lamat-lamat.

"Guru, bagaimana agar saya merasa cukup?" Saya mengeraskan suara, takut sebelumnya tidak didengar.

Guru hanya menatap datar, seolah tidak mendengar, seolah tidak memperhatikan. Saya menyeka dahi yang berkeringat, bergumam dalam hati, memangnya saya batang pisang.

Tapi sebelum saya mengulang pertanyaan ketiga kalinya, guru akhirnya buka suara.

"Kau sungguh bertanya, atau sekadar basa-basi saja?"

Ya ampun, guru, saya menghabiskan waktu berhari2 hanya untuk menemuinya. Tentu saja saya sungguh bertanya. Memangnya ini sejenis tinggal kirim email, kirim surat, mudah sekali bertanya. Saya menemuinya lewat perjalanan panjang dan tidak murah.

Saya mengangguk mantap. Bergegas mengusir hendak berseru barusan.

"Baik. Maka akan aku berikan sebuah tugas sederhana." Guru mengangguk.

Saya semangat. Ini pasti sejenis tugas menantang sebelum guru bersedia menjawab. Sebuah tugas untuk pembuktian kalau saya sungguh2 memang bertanya. Bukan sekadar pertanyaan basa-basi: habis bertanya, dapat jawaban, mengangguk sebentar sok paham, lantas lupakan. Ini sungguh sebuah pertanyaan, yang jawabannya akan digigit hingga mati.

Guru menatapku tajam kali ini, suaranya lebih berat dan serius, "Nah, tugasnya adalah kau cari cara bagaimana mengeringkan sumur tua di komplek sekolah ini. Keringkan."

Well yeah, itu mudah, guru. Saya nyengir. Maka pertemuan itu selesai untuk sementara waktu. Besok pagi-pagi saya mulai mencari ember, mencari tali, lantas disaksikan beberapa murid guru lainnya, mulai menimba sumur tua itu, mengeluarkan seluruh isi sumur. Itu sumur tua, bau airnya, bahkan ada bangkai tikus di dalamnya. Tapi tidak mengapa, itulah poin penting tugas ini. Seharian penuh saya melakukannya. Selesai. Sorenya, bergegas menghadap guru, dengan badan penuh keringat, lumpur, dan bau.

Guru menggeleng. Saya menepuk dahi, menyesal terlalu cepat berpuas diri. Tentu saja tidak hanya satu tugas, pasti ada tugas berikutnya. "Kau keringkan rawa-rawa di belakang komplek sekolah. Habisi airnya. Itu tugas kedua. Kembali setelah selesai." Saya mengeluh dalam hati, itu tidak semudah mengurus sumur tua.

Besok pagi-pagi sekali, saya membawa seluruh peralatan yang tersedia. Rawa-rawa itu luasnya hampir satu hektar, ini tidak akan mudah dilakukan meski dengan bantuan selang-selang, pompa. Rawa-rawa itu dipenuhi nyamuk, serangga, ular berbisa, dan perdu berduri. Itu sumber penyakit bagi kampung. Berkubang mengeringkan rawa lebih sulit dibanding sumur tua. Butuh tiga minggu lebih hingga akhirnya semua air berhasil dikeluarkan. Ditambah harap-harap cemas kalau hujan turun.

Persis hari ke-27, setelah bekerja keras sepanjang hari, rawa-rawa itu kering. Saya bergegas menemui guru, dengan tubuh belepotan kotor. Kali ini, saya berhak atas jawaban tersebut. Benar-benar berhak. Itu bukan tugas sepele. Sial. Guru tetap menggeleng. Saya benar-benar mengeluh dalam. Ini serius sekali ternyata. Pertanyaan sederhana itu ternyata amat mahal harganya. "Kau keringkan danau di dekat kampung. Habisi airnya."

Ya ampun? Danau? Saya tidak sempat bertanya, protes, atau apalah. Saya sudah terduduk lesu. Murid-murid lain menatap prihatin, tapi mereka tidak berkomentar.

Besok pagi-pagi sekali, saya mendatangi danau itu. Luasnya sebelas hektar, menurut informasi penduduk setempat, dalamnya bisa mencapai sebelas meter. Astaga, ini tugas gila, bagaimana saya harus mengeringkan danau ini? Berhari-hari memikirkan caranya. Bermalam-malam mencari tahu bagaimana. Tidak ada solusinya, dengan ratusan pompa sekalipun, tdk mudah mengeringkan danau tersebut. Mata airnya menyembur dari mana-mana, banyak sungai bermuara ke dalamnya, meski ditutup sungai2 itu, tetap tidak mudah.

Di hari ke-7, saya menyerah, saya menemui guru.

"Saya tidak ingin lagi jawaban pertanyaan itu." Saya berkata pelan. Menunduk, "Saya mau pulang."

Guru tersenyum--untuk pertama kalinya.

"Kau sudah mendapatkan jawabannya, anakku."

Aku mengangkat kepala. Mulai jengkel, hei, dimana jawabannya? Sebulan lebih tinggal di sekolah itu, saya bahkan hanya disuruh jadi kuli. Menguras sumur tua, mengeringkan rawa-rawa.

Guru mengangguk, "Kau sudah mendapatkan jawabannya, anakku. Baiklah, akan aku jelaskan. Bukankah kau bertanya bagaimana merasa cukup, bukan? Maka anakku, kau bahkan tidak bisa mengeringkan danau itu. Padahal itu hanya tugas nomor dua paling sulit."

Nomor dua paling sulit? Memangnya ada tugas yang lebih sulit?

"Ada, mengeringkan lautan. Seluruh lautan di dunia ini, anakku. Apakah kau bisa mengeringkan seluruh lautan?"

"Itu mustahil!" Aku berseru.

Guru tertawa kecil, "Tentu saja tidak. Itu pekerjaan yang mudah saja. Bagaimana cara mengeringkan seluruh lautan? Maka jawabannya, kau jadikan airnya sebagai tinta untuk menulis seluruh nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Bahkan habis sudah air lautan, tidak akan cukup untuk menuliskannya. Udara yang kau hirup. Kesehatan yang kau dapat. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, kaki untuk melangkah. Tidak akan cukup untuk menulis seluruh nikmat Tuhan tersebut."

"Itulah jawabannya, anakku. Kau mudah saja mengeringkan sumur, kau juga keras kepala bisa mengeringkan rawa-rawa. Mungkin juga bisa mengeringkan danau jika diberikan peralatan raksasa, tapi kau ternyata tidak bisa mengeringkan lautan. Padahal apalah artinya seluruh lautan di dunia ini dibanding nikmat Tuhan. Maka, apakah kau sekarang bertanya bagaimana merasa cukup? Kau sudah mendapatkan jawabannya. Tinggal sekarang dipikirkan. Direnungkan. Sekali kau paham, gigitlah pemahaman itu hingga mati."

Aku menatap tikar pandan yang kududuki. Terdiam hingga matahari tumbang di kaki langit sana.



di post oleh Sangjurupati

Selasa, 17 Desember 2013

Keras Kepala

Saya pernah menumpang pesawat dalam salah-satu penerbangan lokal. Di dekat saya, duduklah perempuan separuh baya, usianya mungkin 50 tahun, dan itu sungguh pengalaman pertama dia naik pesawat terbang. 

Pertama2, dia dengan malu-malu bertanya kepada pramugari, apakah pesawat ini menuju ke kota tujuannya. Karena tadi dibilang pesawat ini bakal ke kota lain. Dia bingung. Pramugari menjelaskan, iya, pesawat akan transit dulu, baru kemudian menuju kota berikutnya, tujuannya. Ibu2 ini tetap bingung. Hingga salah-satu penumpang, sambil tersenyum menjelaskan lebih detail, nanti mendarat dulu di kota transit, ibu tidak usah turun. Ibu2 itu baru mengangguk.

Kedua2, ibu2 kita ini tidak mengerti menggunakan sabuk pengaman. Dia bingung. Posisi pramugari sedang jauh dari kursinya, ibu2 ini menoleh kesana kemari. Penumpang lain, dengan tersenyum, berbaik hati memasangkan, menjelaskan. Ibu2 terlihat malu, mukanya merah, tapi itu sungguh bukan hal memalukan. Semua orang pasti pernah mengalami pertama kali naik pesawat, dan tidak bisa mengenakan sabuk pengaman adalah hal biasa sama seperti kita tidak bisa membuka kaleng, membuka lemari. Biasa saja.

Ketiga2, maka tibalah di bagian yang mengharukan. Ibu ini mengeluarkan HP-nya yang jadul, monochrome, begitulah. Dia berbisik pelan, bagaimana mematikan HP-nya. Aduh, Ibu kita ini tidak tahu bagaimana cara mematikan HP. Dia lagi2 dengan malu menjelaskan, HP itu pemberian anaknya sebelum naik pesawat, dan dia tidak tahu cara mematikannya. Tolong dimatikan ya, Nak. Katanya nggak boleh menghidupkan HP di pesawat, nanti bikin celaka. Kali ini, giliran saya yang berusaha membantu mematikan HP jadul itu. Nah loh, sy belum pernah berpengalaman dengan merk HP milik ibu2 ini, maka saya jadi ikutan bingung. Penumpang di baris depan menawarkan diri, beberapa detik, beres, HP telah dimatikan, plus dijelaskan bagaimana nanti cara menghidupkannya.

Saya selalu ingat kejadian tersebut.

Di tengah berita media massa tentang pejabat negara yang menampar pramugari gara2 dia disuruh mematikan telepon genggam, cerita ini adalah 180 derajat keterbalikan.

Ibu2 kita ini, amat terhormat meski dengan ketidaktahuannya. Dia sama sekali tidak norak, dia jelas menunjukkan betapa terhormatnya dia, dengan berusaha mematuhi peraturan bahwa HP harus dimatikan--tidak peduli dgn mode airplane, flight, dsbgnya. Harus mati. Sesuai Undang-Undang.

Beberapa orang memang ngotot bilang bahwa telepon genggam tdk berbahaya bagi penerbangan. Well yeah, maka silahkan kalian mengganti peraturan, ganti sana Undang-Undangnya. Sebagai catatan, nyaris 100% regulator penerbangan dunia sepakat penumpang harus mematikan HP. Nah, simpel, silahkan ganti peraturannya, baru bisa koar2 tdk berbahaya. Kalau peraturannya masih bilang no way, maka cuap2 orang ini sama seperti klaim bahwa merokok amat sehat bagi kesehatan jantung.

Ingatlah selalu, ketika kita mematuhi peraturan, maka sejatinya bukan soal mengalah, bukan soal kalah menang, bukan solah diatur2, bukan soal siapa yg lebih tahu, siapa yang sok tahu, siapa yg lebih pintar, hebat, berkuasa, melainkan soal: kita justeru sedang menghormati diri sendiri. Orang2 yang merendahkan peraturan, mengabaikannya, maka jelas sekali selain norak, adalah karakter orang2 rendah. Catat baik2, orang2 ini, sekali diingatkan, bukannya nurut, maka dia akan ngelunjak. Maka tiada lain, kalau di page saya ini, siapapun yang sok gaya melanggar peraturan, saya kandangkan, saya sumpal mulutnya. Bye.

Saya berharap, besok lusa, siapapun yang marah2 saat diingatkan agar mematikan telepon genggam di atas pesawat terbang, maka sebaiknya dilempar saja keluar, jangan pernah dibiarkan naik pesawat. Mereka ini boleh jadi kaya, berkuasa, tapi mentalnya memang masih naik angkot (maaf buat angkot).



di post oleh Sangjurupati

Sabtu, 14 Desember 2013

FOTO2 KEREN

Mendaki sebuah gunung bukan sebuah kebanggaan, Kawan
Karena kalau kita anggap pendakian gunung itu kebanggaan
Maka jangan lupa, penduduk setempat bahkan setiap hari
Setiap hari mencari kayu bakar, rotan, dan sebagainya di sana
Bahkan anak2 mereka pergi memancing ke atas danau di gunung
Berangkat pagi, pulang sore

TIDAK LEVEL

Di Beijing, jika kita punya uang banyak, maka memiliki mobil tetap susah. Siapapun yang ingin beli mobil, diminta mendaftar, lantas dalam periode tertentu diundi oleh regulator setempat siapa yang boleh beli mobil siapa yang disuruh ikut lagi undian. Persentase terpilih kecil sekali, 1% saja. Dari 100 aplikasi, hanya 1 yang terpilih, dan atas aplikasi yang terpilih ini kemudian dibuatlah STNK. Produsen mobil silahkan kalau mau produksi habis2an, monggo, silahkan cari pasar ke kota2 lain yang tidak memberlakukan undian ini.

MENCINTAI KEHIDUPAN

Jalanan adalah saksi bisu
Ketika berjuta orang berlalu lalang di atasnya
Dalam pengapnya siang
Dalam suramnya malam
Hujan, terik, mendung, berkabut
Menyaksikan apakah orang2 yang melewatinya
Berwajah bahagia atau tersiksa

SAJAK MENJAGAMU

Akan kurawat kau dalam diam
Agar tumbuh besar penuh pemahaman
Akan kurawat kau dalam hening
Agar tumbuh tinggi penuh kesabaran
Akan kurawat kau dalam senyap
Agar tumbuh kokoh penuh keihklasan

PENYAKIT ADUH SAKITNYA

Bagaimana memahami penyakit hati masyarakat hari ini? Mudah, dicek saja lewat jejaring sosial,website berita, lantas lakukan mapping (cocokkan) dengan rumus berikut ini:

Dalam masyarakat yang sakit, setiap kali ada kabar gembira, maka ada tiga level reaksinya:

PUISI CUKUP ADALAH CUKUP

Ketika sebutir buah mangga dibiarkan terlalu matang
Bukan semakin manis buah yang diperoleh
Melainkan busuk dan berulatlah dia

Ketika satu hamparan sawah dibiarkan terlalu matang
Bukan butir padi gemuk yang didapat
Melainkan gugur ke tanah butir2nya

BAHKAN NABI PUN DIPENJARA

Terus terang, saya tidak termasuk golongan orang2 yang bagai sponge, busa. Tapi saya ingin menulis tentang orang2 ini, syukur2 sedikit pemahaman mereka bisa sy tiru, sudah sebuah kemajuan yang baik. Siapa orang2 ini? Yaitu orang2 yang bisa menerima begitu banyak hal menyakitkan di sekitarnya bagai busa.

SAJAK BUAT APA?

Kau tidak perlu memaksakan diri menyukaiku
Buat apa?
Kita hidup dalam dua kehidupan yang berbeda.
Setiap manusia memiliki kehidupan masing-masing
Tidak bertemu di satu titik kehidupan tidak masalah.

SAJAK JANGAN MENANGIS

Jika SMS kita tidak dibalas-balas oleh seseorang
Maka jangan menangis, Dek
Boleh jadi seseorang itu simpel tidak dapat sinyal
Atau mungkin kehabisan pulsa
Tidak perlu gundah gulana
Berprasangka yang aneh-aneh

DIMANAKAH KEHORMATAN ITU?

Wahai penguasa
Di mana janji suci itu
Ketika sekarang semua kau khianati

Pemilik kekuasaan memilih menyakiti yang lemah
Yang mampu memutuskan memilih menyimpannya
Yang bisa menjulurkan tangan memilih menjerumuskan
Yang bisa berdiri tegak membela, justeru menutup mata

LAKSANA AIR

Bersabarlah seperti air. Terus mengalir ke bawah sesuai hukum alamnya, ketemu rintangan dia berbelok, ketemu celah kecil dia nyelip, ketemu batu dia menyibak, ketemu bendungan, dia terusss mengumpulkan diri sendiri, hingga semakin banyak, semakin tinggi, penuh terlampui bendungan tersebut, untuk mengalir lagi. Seolah dia tidak melakukan apapun, hanya diam, sabar, tenang, tapi sedang terus berusaha habis2an.

SAJAK JEMURAN

Sendal jepit saja, kelamaan ditinggal di depan rumah
Bisa hilang, apalagi motor keren nan kinclong
Bisa kabur sampai luar kota sana

SAJAK MOVE ON

Terlampaui itu adalah seperti
Seorang atlet lari 10KM yang sedang berlatih
Saat dia giat berlatih di suatu pagi
Tidak terasa dia sudah lari 15KM 
Itulah terlampaui karena giat-nya

MENGATUR-ATUR HATI KITA

Kalau kita tidak suka melihat sesuatu
Kita bisa menutup mata kita
Maka sesuatu itu tidak lagi terlihat

Kalau kita tidak mau mendengar sesuatu
Kita bisa menutup telinga kita
Maka sesuatu itu tidak akan terdengar lagi

SAJAK TIDAK BUTUH

Anakku,

Kita tidak butuh berbadan besar untuk memiliki jiwa besar.
Kita tidak butuh gagah perkasa untuk memiliki keberanian.
Kita tidak butuh pedang di tangan untuk menegakkan kebenaran.

Kita tidak butuh memiliki dunia untuk mulai berbagi
Kita tidak butuh berkuasa untuk mulai membantu
Kita tidak butuh bijaksana untuk mulai saling mengingatkan

Hidup kita boleh jadi tidak megah
Pun juga tidak dikenal dan sohor di mana-mana
Hidup kita boleh jadi tidak hebat, keren, menakjubkan
Pun juga tidak elit, besar di mata orang-orang
Tapi kita selalu bisa membuatnya spesial
Dan kita tahu persis bahwa itu memang spesial
Kita peluk semua keyakinan itu
Dengan bahagia
Karena kita telah melakukan yang terbaiknya.

KISAH KEYAKINAN DAN KETEGUHAN

Coba bayangkan, kita berada di sebuah tempat, mencari sesuatu, mata air misalnya, dan tempat itu gurun pasir. Kita cari, kita periksa tempat itu (sebut saja A), tidak ada. Kemudian kita pindah lagi ke tempat lain yang sepertinya akan ada airnya, kita periksa tempat baru ini (sebut saja B), juga tidak ada. Aduh, bagaimana ini? Kita balik lagi ke tempat A, diperksa lagi, tidak ada. Kita balik lagi ke tempat B, tetap tidak ada. 7 kali kita memeriksa bolak-balik A, B, tetap tidak ditemukan air tersebut. 

SAJAK PEKERJAAN

Nak, jangan jadi pengacara kalau kau tidak kuat. 
Membela yang kaya (dan nyata2 salah), kau masuk neraka, meski banyak uangnya. 
Membela yang miskin dan papa (nyata2 benar), musuhmu menggunung di dunia, pun miskin pula kau, bujang. 
Nasib sekali profesi ini, sama dengan profesi hakim, jaksa dan sebagainya.

CATATAN KERASNYA HATI

Hati itu kadangkala ibarat batu
Dia keras sekali
Mana mau mengalah dan menerima
Bahkan tetap dingin dan kasar
Merasa lebih abadi dibanding seisi dunia

Maka biarkanlah tetes air mengubahnya
Satu tetes demi satu tetes
Hingga akhirnya berlubang sudah
Penuh keihklasan