Saya pernah menumpang pesawat dalam salah-satu penerbangan lokal. Di dekat saya, duduklah perempuan separuh baya, usianya mungkin 50 tahun, dan itu sungguh pengalaman pertama dia naik pesawat terbang.
Pertama2, dia dengan malu-malu bertanya kepada pramugari, apakah pesawat ini menuju ke kota tujuannya. Karena tadi dibilang pesawat ini bakal ke kota lain. Dia bingung. Pramugari menjelaskan, iya, pesawat akan transit dulu, baru kemudian menuju kota berikutnya, tujuannya. Ibu2 ini tetap bingung. Hingga salah-satu penumpang, sambil tersenyum menjelaskan lebih detail, nanti mendarat dulu di kota transit, ibu tidak usah turun. Ibu2 itu baru mengangguk.
Kedua2, ibu2 kita ini tidak mengerti menggunakan sabuk pengaman. Dia bingung. Posisi pramugari sedang jauh dari kursinya, ibu2 ini menoleh kesana kemari. Penumpang lain, dengan tersenyum, berbaik hati memasangkan, menjelaskan. Ibu2 terlihat malu, mukanya merah, tapi itu sungguh bukan hal memalukan. Semua orang pasti pernah mengalami pertama kali naik pesawat, dan tidak bisa mengenakan sabuk pengaman adalah hal biasa sama seperti kita tidak bisa membuka kaleng, membuka lemari. Biasa saja.
Ketiga2, maka tibalah di bagian yang mengharukan. Ibu ini mengeluarkan HP-nya yang jadul, monochrome, begitulah. Dia berbisik pelan, bagaimana mematikan HP-nya. Aduh, Ibu kita ini tidak tahu bagaimana cara mematikan HP. Dia lagi2 dengan malu menjelaskan, HP itu pemberian anaknya sebelum naik pesawat, dan dia tidak tahu cara mematikannya. Tolong dimatikan ya, Nak. Katanya nggak boleh menghidupkan HP di pesawat, nanti bikin celaka. Kali ini, giliran saya yang berusaha membantu mematikan HP jadul itu. Nah loh, sy belum pernah berpengalaman dengan merk HP milik ibu2 ini, maka saya jadi ikutan bingung. Penumpang di baris depan menawarkan diri, beberapa detik, beres, HP telah dimatikan, plus dijelaskan bagaimana nanti cara menghidupkannya.
Saya selalu ingat kejadian tersebut.
Di tengah berita media massa tentang pejabat negara yang menampar pramugari gara2 dia disuruh mematikan telepon genggam, cerita ini adalah 180 derajat keterbalikan.
Ibu2 kita ini, amat terhormat meski dengan ketidaktahuannya. Dia sama sekali tidak norak, dia jelas menunjukkan betapa terhormatnya dia, dengan berusaha mematuhi peraturan bahwa HP harus dimatikan--tidak peduli dgn mode airplane, flight, dsbgnya. Harus mati. Sesuai Undang-Undang.
Beberapa orang memang ngotot bilang bahwa telepon genggam tdk berbahaya bagi penerbangan. Well yeah, maka silahkan kalian mengganti peraturan, ganti sana Undang-Undangnya. Sebagai catatan, nyaris 100% regulator penerbangan dunia sepakat penumpang harus mematikan HP. Nah, simpel, silahkan ganti peraturannya, baru bisa koar2 tdk berbahaya. Kalau peraturannya masih bilang no way, maka cuap2 orang ini sama seperti klaim bahwa merokok amat sehat bagi kesehatan jantung.
Ingatlah selalu, ketika kita mematuhi peraturan, maka sejatinya bukan soal mengalah, bukan soal kalah menang, bukan solah diatur2, bukan soal siapa yg lebih tahu, siapa yang sok tahu, siapa yg lebih pintar, hebat, berkuasa, melainkan soal: kita justeru sedang menghormati diri sendiri. Orang2 yang merendahkan peraturan, mengabaikannya, maka jelas sekali selain norak, adalah karakter orang2 rendah. Catat baik2, orang2 ini, sekali diingatkan, bukannya nurut, maka dia akan ngelunjak. Maka tiada lain, kalau di page saya ini, siapapun yang sok gaya melanggar peraturan, saya kandangkan, saya sumpal mulutnya. Bye.
Saya berharap, besok lusa, siapapun yang marah2 saat diingatkan agar mematikan telepon genggam di atas pesawat terbang, maka sebaiknya dilempar saja keluar, jangan pernah dibiarkan naik pesawat. Mereka ini boleh jadi kaya, berkuasa, tapi mentalnya memang masih naik angkot (maaf buat angkot).
Pertama2, dia dengan malu-malu bertanya kepada pramugari, apakah pesawat ini menuju ke kota tujuannya. Karena tadi dibilang pesawat ini bakal ke kota lain. Dia bingung. Pramugari menjelaskan, iya, pesawat akan transit dulu, baru kemudian menuju kota berikutnya, tujuannya. Ibu2 ini tetap bingung. Hingga salah-satu penumpang, sambil tersenyum menjelaskan lebih detail, nanti mendarat dulu di kota transit, ibu tidak usah turun. Ibu2 itu baru mengangguk.
Kedua2, ibu2 kita ini tidak mengerti menggunakan sabuk pengaman. Dia bingung. Posisi pramugari sedang jauh dari kursinya, ibu2 ini menoleh kesana kemari. Penumpang lain, dengan tersenyum, berbaik hati memasangkan, menjelaskan. Ibu2 terlihat malu, mukanya merah, tapi itu sungguh bukan hal memalukan. Semua orang pasti pernah mengalami pertama kali naik pesawat, dan tidak bisa mengenakan sabuk pengaman adalah hal biasa sama seperti kita tidak bisa membuka kaleng, membuka lemari. Biasa saja.
Ketiga2, maka tibalah di bagian yang mengharukan. Ibu ini mengeluarkan HP-nya yang jadul, monochrome, begitulah. Dia berbisik pelan, bagaimana mematikan HP-nya. Aduh, Ibu kita ini tidak tahu bagaimana cara mematikan HP. Dia lagi2 dengan malu menjelaskan, HP itu pemberian anaknya sebelum naik pesawat, dan dia tidak tahu cara mematikannya. Tolong dimatikan ya, Nak. Katanya nggak boleh menghidupkan HP di pesawat, nanti bikin celaka. Kali ini, giliran saya yang berusaha membantu mematikan HP jadul itu. Nah loh, sy belum pernah berpengalaman dengan merk HP milik ibu2 ini, maka saya jadi ikutan bingung. Penumpang di baris depan menawarkan diri, beberapa detik, beres, HP telah dimatikan, plus dijelaskan bagaimana nanti cara menghidupkannya.
Saya selalu ingat kejadian tersebut.
Di tengah berita media massa tentang pejabat negara yang menampar pramugari gara2 dia disuruh mematikan telepon genggam, cerita ini adalah 180 derajat keterbalikan.
Ibu2 kita ini, amat terhormat meski dengan ketidaktahuannya. Dia sama sekali tidak norak, dia jelas menunjukkan betapa terhormatnya dia, dengan berusaha mematuhi peraturan bahwa HP harus dimatikan--tidak peduli dgn mode airplane, flight, dsbgnya. Harus mati. Sesuai Undang-Undang.
Beberapa orang memang ngotot bilang bahwa telepon genggam tdk berbahaya bagi penerbangan. Well yeah, maka silahkan kalian mengganti peraturan, ganti sana Undang-Undangnya. Sebagai catatan, nyaris 100% regulator penerbangan dunia sepakat penumpang harus mematikan HP. Nah, simpel, silahkan ganti peraturannya, baru bisa koar2 tdk berbahaya. Kalau peraturannya masih bilang no way, maka cuap2 orang ini sama seperti klaim bahwa merokok amat sehat bagi kesehatan jantung.
Ingatlah selalu, ketika kita mematuhi peraturan, maka sejatinya bukan soal mengalah, bukan soal kalah menang, bukan solah diatur2, bukan soal siapa yg lebih tahu, siapa yang sok tahu, siapa yg lebih pintar, hebat, berkuasa, melainkan soal: kita justeru sedang menghormati diri sendiri. Orang2 yang merendahkan peraturan, mengabaikannya, maka jelas sekali selain norak, adalah karakter orang2 rendah. Catat baik2, orang2 ini, sekali diingatkan, bukannya nurut, maka dia akan ngelunjak. Maka tiada lain, kalau di page saya ini, siapapun yang sok gaya melanggar peraturan, saya kandangkan, saya sumpal mulutnya. Bye.
Saya berharap, besok lusa, siapapun yang marah2 saat diingatkan agar mematikan telepon genggam di atas pesawat terbang, maka sebaiknya dilempar saja keluar, jangan pernah dibiarkan naik pesawat. Mereka ini boleh jadi kaya, berkuasa, tapi mentalnya memang masih naik angkot (maaf buat angkot).
di post oleh Sangjurupati







0 komentar:
Posting Komentar