fb

Sabtu, 14 Desember 2013

BAHKAN NABI PUN DIPENJARA

Terus terang, saya tidak termasuk golongan orang2 yang bagai sponge, busa. Tapi saya ingin menulis tentang orang2 ini, syukur2 sedikit pemahaman mereka bisa sy tiru, sudah sebuah kemajuan yang baik. Siapa orang2 ini? Yaitu orang2 yang bisa menerima begitu banyak hal menyakitkan di sekitarnya bagai busa.


Bayangkanlah busa besar, ketika dipukul, memang melesak. Tapi sekejap kemudian, kembali ke bentuk semula. Seperti tidak ada yang barusaja meninjunya keras sekali. Atau ketika dilemparkan di genangan air, maka dia akan menyerap air tersebut, hilanglah genangan air, seperti tidak ada sebelumnya.

Saya pernah memikirkan, bukankah bahkan Nabi pun di penjara? Seperti Nabi Yusuf. Apakah dia memutuskan melawan? Melawan? Marah2? Karena mudah sekali bagi Nabi jika mau membalas, malaikat bisa menggulung sebuah penguasa atau kerajaan yang aniaya. Ternyata tidak.

Pun juga sama, banyak orang2 terbaik yang dianiaya sedemikian rupa dalam hidupnya. Apakah mereka memutuskan mengangkat senjata, menyerbu? Melawan zalimnya orang2 kepadanya. Sepengetahuan saya, lebih banyak diantara mereka yang memilih introspeksi, terus memperbaiki diri, dan menunggu kebenaran datang. Karena sungguh, pada akhirnya, adalah kebenaran yang selalu menang. Entah di sisi siapa pun pemiliknya.

Kita selalu bisa menjadi seperti sponge, busa ini. Level kita memang bukan Nabi, bukan orang2 terbaik yang ada dalam kisah. Tapi kita bisa selalu mengambil hikmah terbaiknya. Situasi menyakitkan di sekitar kita selalu temporer. Dipukul orang itu sekejap sekali, jdut! Bengkak atau lukanya memang lama, bisa berminggu2, tapi tetap saja temporer, yang akan abadi adalah pemahaman dan bagaimana kita menyikapinya kemudian. Hal2 buruk di sekitar kita itu selalu temporer, maka sungguh beruntunglah orang2 yang belajar sabar, memilih introspeksi diri, menyibukkan melampiaskan rasa kesal, marah, dengan cara terbaiknya.

Menyerap seluruh kebencian menjadi sumber kasih sayang. Menyerap seluruh rasa sakit menjadi energi kebaikan.

*Tere Liye

di post oleh Sangjurupati

0 komentar:

Posting Komentar