Ada seorang penyanyi besar, dia suka sekali bernyanyi, terkenal di mana-mana. Lagu2nya amat menginspirasi. Menghibur dikala sepi, menemani di kala lara, membangkitkan semangat dikala susah. Pada suatu hari, seorang wartawan bertanya kepada beliau ini, wahai om penyanyi, kenapa Anda menyukai menyanyi? Apakah Anda akan tetap bernyanyi jika orang2 tidak mau mendengarkan Anda lagi? Maka, jawaban penyanyi ini simpel(sambil tersenyum tulus): "Saya menyukai menyanyi karena itulah kesenangan terbesar saya. Dan bagi saya, ada atau tidak ada orang yang mendengarkan, saya tetap akan menyanyi. Tidak berhenti."
Ini jawaban yang seolah terlalu menyederhanakan karir menyanyinya yang luar biasa. Tapi jika dipikirkan, itu justeru jawaban paling cemerlang, kristal dari seluruh kehidupannya. Dia ternyata bernyanyi simpel karena dia suka melakukannya, urusan lain, mau terkenal, mau top, mau apalagi kek, itu urusan belakangan. Dia bernyanyi simpel karena itu membuatnya hepi, dan bukan urusan dia soal yang lain, orang mau suka, orang mau benci. Dia tidak berhitung soal berapa juta album laku terjual, berapa jumlah followernya, berapa uang yang bakal dia terima, dsbgnya, dsbgnya. Itulah sesungguhnya pemahaman yang membedakan antara penyanyi abal2 dan penyanyi sungguhan.
Sayangnya, di dunia ini berapa banyak orang2 punya pemahaman yang justeru terbalik?
Apakah penulis membutuhkan pembaca? Penulis yang baik tidak membutuhkan pembaca, karena kalau dia memang suka menulis, aktivitas tersebut minimal menyenangkan bagi dirinya sendiri. Meluruhkan rasa sebal dan marah. Meluruhkan sesak dan gulana. Tulis, lantas posting, letakkan di mana dia mau meletakkannya. Cukup dia sendiri saja yang baca, sudah sangat bermanfaat. Sisanya, bukan urusan dia lagi. Keliru sekali jika kita baru memulai menulis, di kepala kita sudah dipenuhi dengan: besok lusa novel2 sy bakal top, royalti melimpah, bisa keliling dunia, difilmkan, dsbgnya. Karena jika itu yang kita pikirkan, satu saja tulisan kita tidak ditanggapi orang2, kolom komennya sepi, kita stres sendiri, lantas komen dan like sendiri atas tulisan tersebut.
Saat kita bekerja di sebuah kantor, apakah kita memerlukan pujian dari atasan? Memerlukan penghormatan dari bawahan? Maka jawabannya tidak, dek. Pekerja yang baik, dia hanya fokus pada: bahwa pekerjaannya adalah ibadah dan dia akan melakukan yang terbaik. Bodo amat jika orang2 di sekitarnya menjilat, sikut2an, dia tidak ikut2an, apalagi ikut mengeluh, ikut nge-gosip, ngomongin kapan naik gaji, kapan bonus datang, dsbgnya. Baginya simpel, cukup bekerja dengan baik, karena dia suka atas profesi tsb, pekerjaan itu menjadi penghiburan baginya. Membuatnya bahagia.
Pun sama penjelasannya saat kita jadi PNS, dokter, guru, bidan, apoteker, insinyur, akuntan, dsbgnya, dsbgnya maka akan selalu ada pemahaman PEMBEDA yang jelas sekali antara satu orang dengan pemahaman baiknya versus orang lain dengan pemahaman dangkalnya.
Nah, kabar buruknya, dalam kaca mata dunia, ukuran2 materi, nasib dua orang dengan pemahaman beda tersebut bisa terbalik juga. Yang lurus hanya ingin bekerja sebagai ladang ibadah, berpuluh tahun hanya begitu2 saja karirnya, sedangkan yang habis2an sikut2an, menjilat, menyuap, bisa melesat jadi bos dan kaya raya. Tapi tidak mengapa. Itu tidak akan membuat kita berhenti untuk memiliki pemahaman pembedanya. Karena apa? Duh, kebahagiaan di dalam hati itu tidak bisa ditipu. Kitalah yang tahu persis apakah kita hepi atau tidak. Karena banyak, orang2 yang telah memiliki segalanya, justeru hidupnya hanya topeng saja, karena dia tidak memiliki pemahaman terbaik dalam hatinya. Terus merasa kurang, tidak pernah cukup.
Kembali lagi ke soal penyanyi tadi. Mengapa dia suka menyanyi? Simpel karena dia suka dan memutuskan akan menjadikan itu aktivitas penting. Dan sungguh beruntung penyanyi ini, ketika ternyata dia justeru merengkuh banyak hal dengan pemahaman sederhananya tersebut.
Dan sungguh beruntung pula kita, apapun profesi kita, saat kita memiliki alasan terbaik melakukannya, ternyata kesuksesan besar berbaris rapi mendekat. Kalaupun kita tetap begitu2 saja, toh, tidak mengapa, kita sudah menggenapi niat terbaiknya. Itu lebih dari cukup sebagai sumber energi kebahagiaan.
di post olehSangjurupati
Ini jawaban yang seolah terlalu menyederhanakan karir menyanyinya yang luar biasa. Tapi jika dipikirkan, itu justeru jawaban paling cemerlang, kristal dari seluruh kehidupannya. Dia ternyata bernyanyi simpel karena dia suka melakukannya, urusan lain, mau terkenal, mau top, mau apalagi kek, itu urusan belakangan. Dia bernyanyi simpel karena itu membuatnya hepi, dan bukan urusan dia soal yang lain, orang mau suka, orang mau benci. Dia tidak berhitung soal berapa juta album laku terjual, berapa jumlah followernya, berapa uang yang bakal dia terima, dsbgnya, dsbgnya. Itulah sesungguhnya pemahaman yang membedakan antara penyanyi abal2 dan penyanyi sungguhan.
Sayangnya, di dunia ini berapa banyak orang2 punya pemahaman yang justeru terbalik?
Apakah penulis membutuhkan pembaca? Penulis yang baik tidak membutuhkan pembaca, karena kalau dia memang suka menulis, aktivitas tersebut minimal menyenangkan bagi dirinya sendiri. Meluruhkan rasa sebal dan marah. Meluruhkan sesak dan gulana. Tulis, lantas posting, letakkan di mana dia mau meletakkannya. Cukup dia sendiri saja yang baca, sudah sangat bermanfaat. Sisanya, bukan urusan dia lagi. Keliru sekali jika kita baru memulai menulis, di kepala kita sudah dipenuhi dengan: besok lusa novel2 sy bakal top, royalti melimpah, bisa keliling dunia, difilmkan, dsbgnya. Karena jika itu yang kita pikirkan, satu saja tulisan kita tidak ditanggapi orang2, kolom komennya sepi, kita stres sendiri, lantas komen dan like sendiri atas tulisan tersebut.
Saat kita bekerja di sebuah kantor, apakah kita memerlukan pujian dari atasan? Memerlukan penghormatan dari bawahan? Maka jawabannya tidak, dek. Pekerja yang baik, dia hanya fokus pada: bahwa pekerjaannya adalah ibadah dan dia akan melakukan yang terbaik. Bodo amat jika orang2 di sekitarnya menjilat, sikut2an, dia tidak ikut2an, apalagi ikut mengeluh, ikut nge-gosip, ngomongin kapan naik gaji, kapan bonus datang, dsbgnya. Baginya simpel, cukup bekerja dengan baik, karena dia suka atas profesi tsb, pekerjaan itu menjadi penghiburan baginya. Membuatnya bahagia.
Pun sama penjelasannya saat kita jadi PNS, dokter, guru, bidan, apoteker, insinyur, akuntan, dsbgnya, dsbgnya maka akan selalu ada pemahaman PEMBEDA yang jelas sekali antara satu orang dengan pemahaman baiknya versus orang lain dengan pemahaman dangkalnya.
Nah, kabar buruknya, dalam kaca mata dunia, ukuran2 materi, nasib dua orang dengan pemahaman beda tersebut bisa terbalik juga. Yang lurus hanya ingin bekerja sebagai ladang ibadah, berpuluh tahun hanya begitu2 saja karirnya, sedangkan yang habis2an sikut2an, menjilat, menyuap, bisa melesat jadi bos dan kaya raya. Tapi tidak mengapa. Itu tidak akan membuat kita berhenti untuk memiliki pemahaman pembedanya. Karena apa? Duh, kebahagiaan di dalam hati itu tidak bisa ditipu. Kitalah yang tahu persis apakah kita hepi atau tidak. Karena banyak, orang2 yang telah memiliki segalanya, justeru hidupnya hanya topeng saja, karena dia tidak memiliki pemahaman terbaik dalam hatinya. Terus merasa kurang, tidak pernah cukup.
Kembali lagi ke soal penyanyi tadi. Mengapa dia suka menyanyi? Simpel karena dia suka dan memutuskan akan menjadikan itu aktivitas penting. Dan sungguh beruntung penyanyi ini, ketika ternyata dia justeru merengkuh banyak hal dengan pemahaman sederhananya tersebut.
Dan sungguh beruntung pula kita, apapun profesi kita, saat kita memiliki alasan terbaik melakukannya, ternyata kesuksesan besar berbaris rapi mendekat. Kalaupun kita tetap begitu2 saja, toh, tidak mengapa, kita sudah menggenapi niat terbaiknya. Itu lebih dari cukup sebagai sumber energi kebahagiaan.
di post oleh







0 komentar:
Posting Komentar