fb

Selasa, 07 Januari 2014

POSISI ARGUMEN


Sebagai muslim, maka sebenarnya hukum atas banyak hal itu sudah ada urutannya. Mana di letak paling tinggi, mana berikutnya. 

Yang pertama adalah Al Qur'an. Apapun yang tidak segaris lurus dengan Al Qur'an, maka posisinya wajib ditinggalkan, seberapa hebat logika kita, atau seberapa pintar seseorang berpendapat. Masuk akal kadangkala, tapi bagi kita, itu tidak lebih dari sekadarpermainan logika yang seolah2 benar, hakikatnya sih menipu.

Yang kedua adalah Hadist Nabi. Apapun yang tidak sejalan dengan Al Qur'an dan Hadist nabi, maka posisinya juga wajib segera dijauhi. Ada banyak level hadist Nabi, untuk amannya, maka silahkan merujuk hadist2 sahih seperti kitab Bukhari, Muslim, dll. Selalu hati2 setiap membaca hadist, silahkan cari level dan kualitasnya. Pun kalaupun ada yang menulis sahih Bukhari, silahkan cari di kitab aslinya, jangan2 hanya mencatut. Jika kita awam soal kualitas hadist, maka lebih berhati2 lagi.

Yang ketiga adalah pendapat ulama2 terdahulu yang masih dekat dengan jaman Rasul Allah. Ada banyak buku2 yang mereka tulis. Kitab2 yang mereka buat penting dibaca agar pemahaman kita semakin terang benderang. Ada banyak ulama2 ini, mulai dari pendiri mazhab, hingga ulama2 lain yang aktif mewariskan ilmu lewat buku2nya.

Yang keempat adalah pendapat para ulama yang membahas suatu isu bersama2, lantas menjadikannya rujukan bersama. Setidak suka kita pada pendapat tersebut, sekali itu adalah hasil diskusi para ulama, maka dia jelas memiliki kekuatan ijtihad bersama2, tidak dengan mudah bisa kita abaikan dengan pendapat kita sendirian (seberapa yakin kita dgn pendapat versi kita).

Menurut hemat saya, hanya empat hal ini saja yang bisa jadi rujukan berpendapat. Tidak lebih tidak kurang.

Maka, akan ganjil sekali, kalau orang2 lebih percaya pendapat "pesohor di jejaring sosial" dibandingkan merujuk ke empat hal tersebut. Lebih percaya pendapat orang top hari ini dibanding nasehat agamanya. Semua orang selalu punya kesempatan memahami persoalan langsung ke muasal penjelasannya. Tinggal apakah kita mau membuka kitab2 dan buku2. Ketahuilah, hari ini, kadang antara selebritis dengan ulama tidak ada bedanya. Motivator dengan guru ngaji kadang serupa saja. Pun ahli fiksi (seperti saya) dengan ahli tafsir seolah mirip. Padahal tentu saja berbeda jauh sekali, mulai dari lingkup ilmu dan pondasi pengetahuannya.

Kita tentu saja boleh punya guru. Tapi guru yang baik, setahu saya, tidak akan pernah mengklaim pendapat dia adalah kebenaran, dia pasti akan menyilahkan murid2nya merujuk muasal hukumnya. Pertama, itu akan menghindarkan pendapat membabi-buta, kedua, itu akan justeru memberikan jalan agar murid2nya bisa lebih memahami bahkan dibandingkan gurunya.

Semoga kita terhindar dari golongan yang membuat argumen berdasarkan pendapatnya saja, logika, sepotong-sepotong, dan mengambil yg dia suka, meninggalkan yang tidak suka. Semoga kita terhindar dari fanatik berlebihan atas pendapat, merasa memiliki kebenaran mutlak. Dan yang lebih penting lagi, semoga Allah membuka pintu hati kita, agar terbuka atas pemahaman2 yang lebih baik sesuai muasal hukum terbaiknya.


Di Post Oleh Sangjurupati

0 komentar:

Posting Komentar