Ada sebuah hadist yang sangat terkenal, saya tuliskan terjemahannya:
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” --Sahih Bukhari & Muslim
Jika kemampuan membaca kita terbatas, maka kesimpulan kita adalah: bertemanlah dengan penjual minyak wangi; jangan dengan pandai besi. Dan segeralah, para pandai besi dan simpatisannya akan protes, enak saja, apa dosa saya sebagai pandai besi? Sehingga saya tidak boleh dijadikan teman? Jangan menghina saya dong, memangnya saya buruk? Jika kalimat2 ini tidak dijelaskan hadist Nabi, di dunia maya hari ini, mulai dari website berita, jejaring sosial, respon yang paling mungkin justeru sejenis ini.
Lantas apakah kalimat tersebut memang sedang menistakan pandai besi? Menghinakan posisinya? Sungguh Rasul Allah terlalu mulia untuk melakukannya, dan jelas Rasul tidak sedang menghina pandai besi.
Kalimat ini NETRAL sekali.
Hanya perumpamaan, hanya sebuah penjelasan, sebuah permisalan. Jika kalian berteman dengan A, maka A. Jika kalian berteman dengan B, maka B. Jika kalian makan cabe, maka pedas (lazimnya), jika makan garam, maka asin (lazimnya). Silahkan pikirkan konsekuensi tersebut. Karena jarang terjadi, makan cabe dapatnya asin, makan garam dapatnya pedas. Netral sekali, sebuah ilustrasi yang sangat sederhana dan akurat. Apakah makan cabe lebih baik dibanding makan garam? Tentu tidak, karena itu pilihan netral. Silahkan.
Nah, dengan sedikit kemampuan analogi, kemampuan memikirkan contoh lain yang sejenis, kita disuruh berpikir. Think! Apakah kita bersedia berteman dengan orang2 yang suka mabuk2an? Berzina? Ngobat? Atau kita mau berteman dengan orang2 yang rajin belajar, giat bekerja dan saleh? Kalau yang ini jelas pilihan, tidak lagi netral secara akal sehat. Situasinya ada pilihan yang lebih baik.
Hari ini, orang2 pintar semua membaca, belum selesai dibaca saja, sudah tahu semua. Tapi diakui atau tidak, tak semua orang bisa menangkap poin terpentingnya. Kenapa tidak bisa? Bukan karena bodoh. Melainkan karena terlanjur berpikir negatif dan tersinggung. Saya kasih contoh, misalnya saya menulis: murid2 yang cemerlang tidak akan lahir dari sekolah dgn guru2 rakus, dikit2 jadi lahan bisnis, seragam, jalan2, jadi bisnis semua; Tapi murid2 yang cemerlang akan lahir dari sekolah dgn guru2 yang tulus, penuh pengorbanan, dicintai dan mencintai muridnya.
Kalimat tersebut lurus sekali. A benar, B benar, A dan B berhubungan, konklusi benar. Lantas kenapa ada yang marah2, ngamuk, langsung berseru: jangan menghina guru dong, jangan merendahkan guru, memangnya Anda dulu tidak punya guru? dasar tidak tahu terimakasih. Aduhai, siapa yang sedang merendahkan siapa? Jika kita terlanjur tersinggung, maka kalimat bersahaja sekalipun tetap saja terasa menyakitkan. Hingga lupa, dengan komen kita tersebut, kita membuka aib sendiri--bahwa kita memang dikit2 dijadikan lahan bisnis. Coba baca lagi kalimat tersebut, dengan menghela nafas lapang, pasti berbeda rasanya.
Saya kasih misal lainnya: "Selamat kepada KPK yang terus menangkapi koruptor, terus berjuang menebaskan pedang keadilan, habisi koruptor." Kalimat ini lagi2 lurus sekali. A benar, B benar, A dan B berhubungan, konklusi benar. Masa' saya menulis: "Hancurlah KPK, semoga dibubarkan, mari bela koruptor." Itu jelas ngaco kalimatnya, bolehlah orang2 protes. Tapi kenapa dengan kalimat2 benar tersebut tiba2 banyak (sekali lagi saya ulangi: BANYAK) yang tiba2 komentar marah2, tersinggung, menyerang KPK, menghina KPK, bahkan tidak ketingalan memaki saya, aduh, ini kan membingungkan sekali. Di mana letak salahnya kalimat tsb? Soal tuduhan KPK itu tebang pilih, agen SBY, dsbgnya, duh, kita tidak sedang membahas hal tsb dalam kalimat. Saya tahu, orang2 berpikiran negatif dan mudah tersinggung itu memang suka kemana2 mikirnya, tapi mbok ya jangan kejauhan, terlanjur tidak satu frekuensi. Beda zona waktu.
My dear anggota page, jangan mudah sekali marah2 hanya karena postingan orang lain. Karena berpikir negatif, mudah sekali tersinggung, hanya akan membuat hati kita membatu. Mengeras. Dan kita kehilangan kesempatan memperoleh hikmah tersembunyi.
Terakhir sebagai penutup, biar ada korelasinya dengan pembuka catatan ini, jika kalian mau jadi penulis, belajarlah dari gaya bahasa Al Qur'an dan Hadist nabi, itu adalah sumber belajar menulis yang menakjubkan. Seandainya saja kemampuan bahasa Arab saya se-level native speaker, mother tongue, saya akan menuliskan sajak2 di page ini dalam bahasa Arab saja. Tapi baiklah, cukup dari membaca terjemahannya saja sudah sangat menakjubkan. Pun jika kalian mau menjadi pembaca yg mampu menyulam kata dengan baik, banyak2lah membaca Al Qur'an dan hadist Nabi--bukan membaca status dan tweet.
Demikian.Sangjurupati
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” --Sahih Bukhari & Muslim
Jika kemampuan membaca kita terbatas, maka kesimpulan kita adalah: bertemanlah dengan penjual minyak wangi; jangan dengan pandai besi. Dan segeralah, para pandai besi dan simpatisannya akan protes, enak saja, apa dosa saya sebagai pandai besi? Sehingga saya tidak boleh dijadikan teman? Jangan menghina saya dong, memangnya saya buruk? Jika kalimat2 ini tidak dijelaskan hadist Nabi, di dunia maya hari ini, mulai dari website berita, jejaring sosial, respon yang paling mungkin justeru sejenis ini.
Lantas apakah kalimat tersebut memang sedang menistakan pandai besi? Menghinakan posisinya? Sungguh Rasul Allah terlalu mulia untuk melakukannya, dan jelas Rasul tidak sedang menghina pandai besi.
Kalimat ini NETRAL sekali.
Hanya perumpamaan, hanya sebuah penjelasan, sebuah permisalan. Jika kalian berteman dengan A, maka A. Jika kalian berteman dengan B, maka B. Jika kalian makan cabe, maka pedas (lazimnya), jika makan garam, maka asin (lazimnya). Silahkan pikirkan konsekuensi tersebut. Karena jarang terjadi, makan cabe dapatnya asin, makan garam dapatnya pedas. Netral sekali, sebuah ilustrasi yang sangat sederhana dan akurat. Apakah makan cabe lebih baik dibanding makan garam? Tentu tidak, karena itu pilihan netral. Silahkan.
Nah, dengan sedikit kemampuan analogi, kemampuan memikirkan contoh lain yang sejenis, kita disuruh berpikir. Think! Apakah kita bersedia berteman dengan orang2 yang suka mabuk2an? Berzina? Ngobat? Atau kita mau berteman dengan orang2 yang rajin belajar, giat bekerja dan saleh? Kalau yang ini jelas pilihan, tidak lagi netral secara akal sehat. Situasinya ada pilihan yang lebih baik.
Hari ini, orang2 pintar semua membaca, belum selesai dibaca saja, sudah tahu semua. Tapi diakui atau tidak, tak semua orang bisa menangkap poin terpentingnya. Kenapa tidak bisa? Bukan karena bodoh. Melainkan karena terlanjur berpikir negatif dan tersinggung. Saya kasih contoh, misalnya saya menulis: murid2 yang cemerlang tidak akan lahir dari sekolah dgn guru2 rakus, dikit2 jadi lahan bisnis, seragam, jalan2, jadi bisnis semua; Tapi murid2 yang cemerlang akan lahir dari sekolah dgn guru2 yang tulus, penuh pengorbanan, dicintai dan mencintai muridnya.
Kalimat tersebut lurus sekali. A benar, B benar, A dan B berhubungan, konklusi benar. Lantas kenapa ada yang marah2, ngamuk, langsung berseru: jangan menghina guru dong, jangan merendahkan guru, memangnya Anda dulu tidak punya guru? dasar tidak tahu terimakasih. Aduhai, siapa yang sedang merendahkan siapa? Jika kita terlanjur tersinggung, maka kalimat bersahaja sekalipun tetap saja terasa menyakitkan. Hingga lupa, dengan komen kita tersebut, kita membuka aib sendiri--bahwa kita memang dikit2 dijadikan lahan bisnis. Coba baca lagi kalimat tersebut, dengan menghela nafas lapang, pasti berbeda rasanya.
Saya kasih misal lainnya: "Selamat kepada KPK yang terus menangkapi koruptor, terus berjuang menebaskan pedang keadilan, habisi koruptor." Kalimat ini lagi2 lurus sekali. A benar, B benar, A dan B berhubungan, konklusi benar. Masa' saya menulis: "Hancurlah KPK, semoga dibubarkan, mari bela koruptor." Itu jelas ngaco kalimatnya, bolehlah orang2 protes. Tapi kenapa dengan kalimat2 benar tersebut tiba2 banyak (sekali lagi saya ulangi: BANYAK) yang tiba2 komentar marah2, tersinggung, menyerang KPK, menghina KPK, bahkan tidak ketingalan memaki saya, aduh, ini kan membingungkan sekali. Di mana letak salahnya kalimat tsb? Soal tuduhan KPK itu tebang pilih, agen SBY, dsbgnya, duh, kita tidak sedang membahas hal tsb dalam kalimat. Saya tahu, orang2 berpikiran negatif dan mudah tersinggung itu memang suka kemana2 mikirnya, tapi mbok ya jangan kejauhan, terlanjur tidak satu frekuensi. Beda zona waktu.
My dear anggota page, jangan mudah sekali marah2 hanya karena postingan orang lain. Karena berpikir negatif, mudah sekali tersinggung, hanya akan membuat hati kita membatu. Mengeras. Dan kita kehilangan kesempatan memperoleh hikmah tersembunyi.
Terakhir sebagai penutup, biar ada korelasinya dengan pembuka catatan ini, jika kalian mau jadi penulis, belajarlah dari gaya bahasa Al Qur'an dan Hadist nabi, itu adalah sumber belajar menulis yang menakjubkan. Seandainya saja kemampuan bahasa Arab saya se-level native speaker, mother tongue, saya akan menuliskan sajak2 di page ini dalam bahasa Arab saja. Tapi baiklah, cukup dari membaca terjemahannya saja sudah sangat menakjubkan. Pun jika kalian mau menjadi pembaca yg mampu menyulam kata dengan baik, banyak2lah membaca Al Qur'an dan hadist Nabi--bukan membaca status dan tweet.
Demikian.







0 komentar:
Posting Komentar