Dulu, waktu masih SMA, dalam pelajaran ekonomi, pasti dibilang, salah-satu keunggulan ekonomi Indonesia itu adalah: buruh murah. Saya sebenarnya bingung dengan poin ini. Buruh murah? Keunggulan? Itu sih sama saja 'melecehkan' kapasitas orang Indonesia. Ayo, mari investasi ke Indonesia, karena di sana orangnya murah2, dikasih gaji rendah, sudah mau kerja sepanjang hari. Kan nggak asyik melihat promosi seperti itu.
Nah, kalau mau disebut keunggulan, jenisnya adalah: tenaga kerja di Indonesia itu produktif dan rajin2. Itu baru benar. Dan atas produktif dan rajin2 itu, jelas sekali ada harganya, tidak gratis. Apakah murah? Atau mahal? Harus dilihat dengan kaca mata komprehensif, karena urusan ini hal yang sangat relatif.
Tapi apapun itu pendapat orang2, saya kira, sudah saatnya kita menghentikan jargon buruh murah ini. Cukup. Di Jakarta, gaji buruh itu memang 2,4 juta, di Surabaya menyusul akan naik jadi 2,2 juta. Tapi di sebagian besar belahan Indonesia, gaji minimum buat buruh itu masih 1 juta-an. Bekerja 40 jam per minggu, atau 160 jam per bulan, hitung saja sendiri, berapa harga tenaga orang Indonesia, hanya 6 ribu/jam.
Setiap tahun buruh2 demo, jalanan macet, imbasnya kemana2. Belum lagi di jejaring sosial, juga ribut dengan diskusi, debat, soal ini. Dan ini tidak akan berhenti tahun ini, bersiaplah di tahun2 mendatang, kesadaran para buruh atas gaji mereka terus membaik, dan mereka akan terus menuntut situasi yang lebih baik.
Maka, jika kita berpikir dengan sudut pandang positif, sebenarnya situasi ini jadi simpel. Situasi ini akan membentuk keseimbangan baru. Di dunia ekonomi, proses menuju equilibrium baru bisa berlangsung lancar, bisa rumit. Untuk urusan gaji buruh ini, kurang lebih berikut prosesnya:
1. Jika gaji buruh terus naik, maka silahkan pengusaha berpikir sekarang. Apakah tetap produksi, atau tutup, atau pindahkan ke kota/negara lain. Toh, pengusaha juga tidak bisa maksa kalau orang yang mau dipekerjakan mintanya segitu.
2. Saat pengusaha satu-persatu pindah, atau mulai menerapkan teknologi mesin, atau mengambil keputusan rasional lainnya, maka kebutuhan buruh mereka akan berkurang drastis.
3. Banyak buruh akan kehilangan pekerjaan; dan angkanya bisa signifikan. Toh, buruh tidak bisa memaksa pengusaha merekrut mereka; pengusaha punya hak penuh. Yang tertinggal di perusahaan adalah buruh2 dengan kualifikasi tinggi, produktif, dengan gaji tinggi pula.
4. Buruh2 yang kehilangan pekerjaan, akan memikirkan solusi lain. Bisa menjadi wiraswasta, bisa bertani, dan jenis2 pekerjaan lainnya. Atau tetap jadi pengangguran, nafkah keluarga terhenti.
Keseimbangan baru terbentuk.
Yang jadi pertanyaan pentingnya adalah: apakah proses menuju keseimbangan baru itu akan berjalan lancar? Mulus? Itu tanggungjawab seluruh buruh yang terlibat di dalamnya. Juga tanggung-jawab pemerintah, pun kita orang2 di sekitarnya--konsumen produk hasil tenaga buruh. Semoga saja lancar. Semoga saja, dengan begini, justeru akan lahir wiraswasta baru, lahir pengusaha2 baru, lahir orang2 mandiri. Karena jika equilibrium baru ini berjalan rumit, maka hasil akhirnya bisa melenceng jauh. Saya tidak mencemaskan demo, karena ini sih kecil saja. Tapi saya mencemaskan hasil akhirnya. Semua harus siap dengan resikonya, termasuk kehilangan pekerjaan. Kan repot, request gaji tinggi, saat orang tidak mau mempekerjakan lagi, kita malah jadi pengangguran--bukannya produktif dengan hal lain.
Selamat tinggal era buruh murah. Hari ini, semua hal memang ada harganya. Dan saat orang2 sibuk menuntut harga itu, semoga juga tidak lupa, kalau orang lain juga berhak dihargai. Cepat atau lambat, saat kesadaran ini datang, di negeri ini akan berhenti sendiri orang2 yg membajak DVD, minta ini gratis, itu gratis, minta subsidi, dsbgnya. Karena kita sudah sadar semua, bahwa semua berhak dihargai sesuai kapasitasnya. Itu berarti Indonesia sudah siap masuk kategori negara maju.
Semoga begitu. Bukan sebaliknya.
Dipost Oleh Sangjurupati







0 komentar:
Posting Komentar