fb

Senin, 13 Januari 2014

DUA KALI

Kenapa menyuap untuk masuk jadi PNS itu merusak sekali? Karena dengan ada orang yang menyuap, lantas berhasil masuk mengisi formasi PNS, atau jabatan2 titipan, nepotisme, maka kerusakannya DUA kali. Yang pertama, orang2 terbaik, jujur dan pekerja keras yg seharusnya mengisi posisi tersebut tidak bisa masuk. Zalim kepada orang2 ini. Yang kedua, pelayanan publik jadi kacau, jauh dari jasa layanan terbaik dan full dedikasi, diganti dengan petugas bermental selalu dipersulit, dikit2 uang kalau mau lancar. Aniaya kepada masyarakat banyak.

Kenapa sogok menyogok untuk memenangkan tender itu berbahaya sekali? Karena kerusakannya dua kali. Tender perbaikan jalan misalnya. Yang pertama, perusahaan2 terbaik yang berpengalaman memperbaiki jalan tersingkirkan. Zalim kepada perusahaan ini. Yang kedua, jalanan tersebut yg seharusnya bertahan 2-3 tahun, hanya 2-3 bulan sudah berlubang lagi. Macet, kecelakaan, terjadi di mana2. Aniaya kepada masyarakat banyak.

Mayoritas orang pengin sekali kaya. Pengin hidup makmur, punya mobil mewah, rumah mewah, pakaian jas mewah, jam tangan mewah, semua kemewahan. Sayangnya, bukannya memilih kerja keras, kreatif, mereka memilih potong kompas, malas sekali bersaing. Maka inilah yang terjadi, mulai dari proyek pembangunan gedung, hingga impor daging sapi. Mulai dari bisnis minyak hingga pengadaan meja kursi. Di lobi sana, di lobi sini. Potong kompas, minta persenan.

Prilaku menyuap, menyogok, korupsi bukan hanya merusak bisnis sehat yang bisa memunculkan kualitas terbaik, tapi juga merusak masyarakat secara langsung. Korupsi di dunia pendidikan, jelas merusak anak2 didik kita. Mereka tidak memperoleh fasilitas terbaik. Korupsi di dunia pertanian, jelas merusak gizi anak2 kita. Korupsi di infrastruktur, yang terjadi adalah banjir, macet, susah kemana2, dsbgnya, dsbgnya. Dan situasi ini ketika berlangsung lama, sudah berkarat korupnya, maka kita sama saja dengan mewarisi: satu generasi dengan pola pikir korup.

Kita harus menyiram generasi korup ini. Seperti flush toilet, kotor, jorok, harus di flush. Digantikan dengan generasi dengan pola pikir lebih baik. Mencontek misalnya, seharusnya sejak usia dini sekali, anak2 kita sudah tahu, mencontek itu jahat sekali. Jijik. Hina. Tapi sialnya, kita masih punya generasi sebelumnya yang korup. Maka apa yang terjadi? Bukannya diajarin kejujuran apapun harganya, murid2 malah dikasih jalan untuk mencontek berjamaah saat ujian. Alasannya kasihan, kasihan dan kasihan. Padahal jelas, generasi yg nyuruh mencontek ini adalah hasil dari kemalasan berkompetisi, tidak mau belajar, potong kompas, ya iyalah, pasti logikanya demikian. Coba dengarkan gaya bahasa mereka: kasihan, bos. Tolonglah, bos. Semua seperti ada rasionalitasnya, ada argumen pembenarannya.

Maka, anak2 dan adik2 remaja di page ini, kalianlah masa depan. Jadikanlah kejujuran sebagai nafas kalian. Jangan mencontek saat ujian. Belajar jauh2 hari. Kerja keras. Saya yakin, masih banyak guru2 yang jujur dan gagah perkasa soal kejujuran ini. Lawan situasi jahat di sekitar kalian. Pun masih banyak PNS, pejabat2 yang jujur, jadilah teladan. Tidak mudah memang, kadang pahit sekali, terasing, dimaki, dibenci, bahkan dalam kasus tertentu tersingkirkan. Tidak mengapa, amar ma'ruf nahi munkar itu tidak pernah mudah. Selalu diuji.

Mari benci sekali dengan prilaku korup. Pilihlah pemimpin yg tidak ada kait-mengaitnya dengan korupsi. Apalagi sudah korupsi, gaya hidup mewah pula, tidak konsisten. Harta bendanya disembunyikan, bahkan berapa jumlah pasangannya pun kita tidak tahu, ditutup2i. Jauhi mereka. Orang2 ini justeru harus di flush segera. Jangan mau ditipu berkali2 oleh orang2 ini. Seolah mereka yang dizalimi, padaha sesungguhnya, kita semua yang sedang dizalimi.

Jadi orang jujur itu sungguh membahagiakan. Insya Allah, kalaupun tidak bahagia di dunia, kelak di akherat, pasti. Kemuliaan hidup tidak akan tertukar.



Dipost Oleh Sangjurupati

0 komentar:

Posting Komentar