Saya tidak tahu, sejak kapan ada banyak sekali buku2, tulisan, orang2 yang mengajak kaum muslim agar kaya biar nanti bisa banyak sedekah. Bahkan doa2 yang dipanjatkan pun, kadang redaksinya jelas sekali: berikan kami kekayaan ya Allah, agar besok lusa kami bisa banyak2 berinfaq, berbuat kebaikan.
Tahukah kita, redaksi doa ini bagai de-javu saja, bak pinang dibelah dua dari kisah yang telah dituliskan dalam Al Qur'an. Dan kisah itu jelas sekali ada di kitab suci agar kita mengambil hikmah.
Silahkan buka Surah At Taubah, ayat 75 (sy tuliskan terjemahannya): Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
Disusul ayat 76: Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
Kemudian ayat 77: Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.
Silahkan baca ayat2 ini. Baca berulang2, biar tiba di hati terdalam (dan gugur sudah tapi, tapi, tapi dengan segala pembenarannya). Ingat baik2, memang tidak dilarang kaya dalam agama kita. Tapi ketahuilah, jangan menggunakan logika dunia untuk urusan akherat. Dan sebaliknya, jangan menggunakan logika akherat untuk pembenaran urusan dunia. Karena itu jelas sekali: kemunafikan. Saat kemunafikan itu terlalu besar, kita lupa sudah, bahwa kita telah berada di dalamnya--tapi tetap merasa paling benar.
Seharusnya kita cemas sekali setelah membaca ayat2 ini.
Di Post OlehSangjurupati
Tahukah kita, redaksi doa ini bagai de-javu saja, bak pinang dibelah dua dari kisah yang telah dituliskan dalam Al Qur'an. Dan kisah itu jelas sekali ada di kitab suci agar kita mengambil hikmah.
Silahkan buka Surah At Taubah, ayat 75 (sy tuliskan terjemahannya): Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
Disusul ayat 76: Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
Kemudian ayat 77: Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.
Silahkan baca ayat2 ini. Baca berulang2, biar tiba di hati terdalam (dan gugur sudah tapi, tapi, tapi dengan segala pembenarannya). Ingat baik2, memang tidak dilarang kaya dalam agama kita. Tapi ketahuilah, jangan menggunakan logika dunia untuk urusan akherat. Dan sebaliknya, jangan menggunakan logika akherat untuk pembenaran urusan dunia. Karena itu jelas sekali: kemunafikan. Saat kemunafikan itu terlalu besar, kita lupa sudah, bahwa kita telah berada di dalamnya--tapi tetap merasa paling benar.
Seharusnya kita cemas sekali setelah membaca ayat2 ini.
Di Post Oleh







0 komentar:
Posting Komentar