Bertahun2 eksis dan narsis di internet, saya menemukan banyak pengalaman menarik. Satu-dua saya simpan saja sebagai catatan biar paham, pembelajaran diri sendiri, beberapa sy tuliskan, sy bagikan yg mungkin berguna buat orang banyak. Kali ini, akan saya ceritakan sebuah kejadian menarik. Anggap saja fiksi, biar tidak ada yang tersinggung, dan cerita ini sudah di-tulis ulang sedemikian rupa dengan setting dan isu berbeda, biar tidak ada yang merasa. Pun bisa dianggap saja kisah fiksi--yg sayangnya sering terjadi di dunia nyata.
Kata kunci dari catatan ini adalah: sudah jadi kebiasaan orang, saat berdebat, maka dia akan menyebut2 latar belakang pendidikannya, menyebut2 betapa keren dan hebatnya dia, sehingga layak punya argumen. Lantas tidak puas dengan itu, dia akan menyerang dan menghina pendidikan orang lain (padahal dia tidak tahu).
Here we go, alkisah, ada seorang teman yang menulis tentang topik agama. Tulisan itu baik sekali, dilandasi pengetahuan yang komprehensif dan mendalam. Dia menulis dari banyak sumber, dan dibuat dengan amat hati2. Tapi entah kenapa, ada yang ternyata tidak sependapat, malah tersinggung. Dan orang yang tidak sependapat ini mulai menuliskan komen2 menyerang. Bilang kalau tulisan tersebut keliru, salah. Komen orang tidak sependapat ini dengan segera mendapatkan komen dari orang lain yang setuju, maka terjadilah debat kusir di halaman tersebut. Dengan cepat, tanpa menunggu waktu, semua orang akan berebut bilang pendapatnya paling benar, bilang dia punya latar belakang pendidikan yang lebih baik, sekolah di tempat yg lebih baik, dstnya, dstnya. Tidak cukup sampai disitu, untuk melampiaskan nafsu berdebat, maka orang2 juga mulai menghina, menyerang orang lain tahu apa sih? Siapa sih penulis tulisan ini? Memangnya dia ulama? Ahli tafsir? Dsbgnya?
Teman saya ini, sayangnya, memang tidak pernah memberitahu latar belakang pendidkannya. Dia bukan pesohor, bukan ustad yang sering muncul di televisi, bukan orang2 top yang seding dianggap jadi 'Nabi' di jejaring sosial. Dia simpel hanya guru di sebuah boarding school, dan mengisi waktu luang dengan menulis isu2 kontemporer tentang agama, dibagikan di blog dan akun jejaring sosialnya. Yang membaca tulisan2nya banyak, tapi tidak se-megah akun milik pesohor lain yang bisa ratusan ribu hingga jutaan.
Dalam situasi debat tidak terkendali di tulisan tersebut, maka teman saya ini memilih menghapus postingan tersebut. Kenapa dihapus? Bukankah tidak ada yang salah dengan tulisan itu? Dia punya alasan tersendiri yang tidak disebutkan, mungkin agar kerusakan yang timbul tidak lebih parah. Dengan dihapus, maka selesai sudah semua debat saling menyerang di tulisan itu (yg saling menyerang adalah orang2 yang membaca tulisan itu, bukan dia, karena dia memilih menahan diri).
Tapi, ada sebuah rahasia kecil dalam cerita ini. Saat orang2 yang tidak sependapat dengan tulisannya menyerangnya, menulis: siapa sih yang nulis ini? kayak sudah paham agama saja. Maka tidak ada yang tahu sama sekali, kalau teman kita ini, guru di salah-satu boarding school ini justeru adalah seorang hafiz Qur'an, menghafal ribuan entry hadist, lulusan Al Azhar Kairo dengan prediket cumlaude. Entahlah, apakah jika orang2 yang menghinanya itu tahu kalau dia sebenarnya bumi langit dibandingkan dengan orang yang dihinanya, apakah mereka akan menyumpal mulutnya dengan terasi. Saya tidak tahu.
Hari ini, kita menghabiskan waktu banyak sekali di jejaring sosial. Dan kita tidak bisa mencegah ekses negatifnya. Kita tidak bisa melarang orang2 berkeliaran di mana2, menumpahkan kotoran. Tidak bisa. Maka, sungguh baik teladan teman kita ini. Dia memilih solusi yang lebih bijak, tidak menanggapi orang2 yang menghinanya, atau jika situasinya sudah terlanjur rumit, dia memilih mengalah, menghapus postingan. Saya sih tidak bisa sebijak dia, saya lebih sering ngamuk2 di page saya, dan jelas tidak ada ampun bagi siapapun yang melanggar peraturan.
Tapi apapun itu, maka semoga setidaknya kita terus belajar memperbaiki diri. Setiap kali kita tidak sependapat dgn orang lain, maka jangan menyerang orang tersebut di rumahnya, menghinanya soal pendidikan, dsbgnya. Karena boleh jadi, kita justeru sedang ditertawakan banyak orang yang tahu persis situasinya. Jika kita memang tidak sependapat, jengkel sekali, maka tulislah pendapat kita di rumah sendiri. Itu lebih baik, lebih bermanfaat. Jadilah pengguna internet yang sehat.
Adios.
Dipost Oleh Sangjurupati







0 komentar:
Posting Komentar