fb

Sabtu, 14 Desember 2013

BUTUH SATU KAMPUNG

Ada sebuah pribahasa istimewa dari negeri jauh (sy terjemahkan bebas agar lebih simpel dipahami), "Butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak, agar dia tumbuh menjadi anak yang baik". 

Itu benar sekali. Butuh orang satu kampung.

Bayangkanlah, sebuah desa, terletak di sebuah lembah indah. Maka akan jadi apa anak2 di desa tersebut, apakah tumbuh jadi anak yang pandai, memiliki sikap pekerja keras, pantang menyerah, sederhana, dsbgnya, amat tergantung dengan orang2 di seluruh kampung tersebut.

Orang tua dan keluarga ada di ring pertama. Orang2 yang memberikan teladan baginya. Guru sekolah, guru ngaji, teman2 sepermainan, teman dekat sekitarnya ada di ring kedua, pendidikan eksternal serta pergaulan apa yang akan dia terima. Dan orang dewasa di seluruh kampung itu menjadi ring terakhir, pihak yang membuat anak tsb tambah cemerlang atau sebaliknya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jika seluruh kampung itu dipenuhi lebih banyak contoh yang baik (tidak mesti 100% baik semua), insya Allah, akan tumbuhlah si bujang jadi anak yang baik. Saat si bujang pergi ke kota, kemana2, dia sudah punya pondasi sikap, pemahaman yang kokoh. Sederhana sekali maksud pribahasa ini. 

Meski implikasinya sangat tidak simpel. Karena pertanyaan besarnya kemudian adalah tidakkah orang2 sekarang tergerak untuk menjadi bagian satu kampung tersebut? Mendidik anak2 kita, remaja2 kita menjadi baik. 

Misalnya: hari ini, remaja kita lebih banyak menghabiskan waktu dgn gagdet, internetan. Maka tidakkah orang2 tergerak untuk memberikan contoh yang baik kepada anak2 kita tersebut agar bisa memanfaatkan teknologi ini dgn lebih positif, sehat? Tidak berlebihan, tidak over, bahkan lebay, semua tumpah ruah, dan besok lusa jadi korban kejahatan? TIDAKKAH orang2 tergerak untuk membangun benteng bagi anak2 kita? Menjelaskan?

Baik, tidak semua orang dewasa peduli atas hal ini. Tapi jika memang kita tidak peduli, bodo amat, maka please, jangan justeru jadi contoh buruk, jangan membuat mereka meniru pemahaman kita, meniru perbuatan kita. Jika kita tidak terpanggil menasehati remaja2 kita, maka mbok ya jangan menjadi bagian yang menyerang orang2 yang memberikan nasehat tersebut. Karena lucu sekali, kita sudah tidak remaja lagi, orang lain sedang fokus menasehati remaja, kita malah yang marah2. GR sekali.

Entah apakah kalian cemas atau tidak. Tapi banyak orang cemas dengan masa depan anak2 kita 20-30 tahun lagi, bukan hanya menghadapi kerasnya ekonomi dunia (sumber minyak habis di Indonesia, sumber daya lain menipis, harga2 pangan mahal), mereka juga harus menghadapi rusaknya tatanan nilai. Tahu atau tidak kalian, dua hari lalu, Uruguay menjadi negeri pertama yang melegalkan ganja (mulai dari menanam, menjual, mengkonsumsi), legal pol. Kenapa bisa? Tidakkah di sana banyak orang2 baiknya? Bisa saja, rumus demokrasi, saat seratus orang punya hak suara, 60 tutup mata, maka cukup 21 orang yang setuju (mengalahkan 20 yg tidak), legal sudah sesuatu atas nama demokrasi.

My dear anggota page, kita bukan sok suci, sok punya moralitas, tapi kalau kita punya anak, punya ponakan, anak2 teman kita, menatap wajah mereka yang balita, lucu, tertawa, bertemu dgn anak2 di perjalanan, di pesawat, mobil, mereka terlihat menggemaskan, maka tidakkah kita terpanggil untuk menjadi bagian satu kampung tersebut yang akan mendidik anak2 menjadi lebih baik: "Butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak, agar dia tumbuh menjadi anak yang baik" Se-kecil apapun kita, semuda apapun usia kita. Termasuk yang masih remaja, bisa menjadi contoh adik2nya yang masih SD. Yang sudah kuliah, menjadi teladan adik2nya yang SMA, dan seterusnya. 

Tidakkah kalian bersedia menjadi bagiannya?

DI POST OLEH SANGJURUPATI

0 komentar:

Posting Komentar