Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

fb

Senin, 13 Januari 2014

OBAT HATI

Duhai yang sedang bersusah hatinya, yang setiap hari berserakan bikin becek jejaring sosial ini dengan keluh kesah dan curhat. Ketahuilah, obat hati itu ada lima.

Yang pertama, membaca Al Qur'an dan maknanya.

Yang kedua, dirikanlah shalat malam.

Yang ketiga, berkumpullah bersama orang2 saleh

Yang keempat, banyak2lah berpuasa.

Yang kelima, perbanyaklah zikir mengingat Allah.

Hanya itu, lima. Tidak ada disana obat hati: kalau mampet hati, curhatlah di facebook, twitter. Kalau sebal hati, curhatlah ke pesohor, motivator, yang kenal juga tidak.

Di jaman Nabi dulu, ada seorang Ayah kehilangan anak kecilnya yg berusia 10 tahunan. Aduh, sedih sekali Ayah ini, belum lagi istrinya sakit2an, keluarganya susah. Maka dia datang ke Nabi, curhat. Lantas apa kata Nabi? Nabi justeru mengingatkan agar dia banyak berzikir, mengingat Allah, dengan mengucapkan, tiada pertolongan selain pertolongan Allah.

Aduh, hari ini, orang2 lebih suka memakai logika dan kecerdasan milik dirinya untuk membantah nasehat2 seperti ini. Pakai logika, rasionalitas mereka yang seolah keren tapi kosong saja. Ayo, kita ini adalah orang2 beragama, lengkapi dengan ilmunya, biar paham posisi dan penjelasannya. Kalian curhat ke saya, apakah itu kehormatan bagi saya? Justeru sia2 seluruh nasehat di page ini yg dibagikan tiap hari secara gratis. Apakah saya bangga jadi tempat orang curhat? Ya Allah, saya sungguh malu, kenapa orang2 yg mengaku rajin membaca page ini, rajin membaca tulisan2 ini, tidak tahu kalau justeru Engkau lah tempat menerima seluruh curhat.

Maka, jika kalian memang mendesak ingin curhat, gunakanlah 5 obat hati tersebut. Banyak2 baca Al Qur'an, banyak2 mendirikan shalat malam, banyak2 berteman dgn teman2 baik, yg saleh, yg saling mengingatkan, saling menasehati (dan itu di dunia nyata, bisa kakak-adik kalian, bisa teman2 di sekolah, teman2 di masjid, teman2 di kajian, majelis ilmu), banyak2lah berpuasa, dan banyak2lah berzikir mengingat Allah. Bukan banyak2 menghabiskan waktu di jejaring sosial, yang bahkan lagi ngantri di alfamart saja mesti curhat di facebook, update status, "Bete deh, lama banget antrinya."

Berhentilah bersilat lidah dengan argumen2 dangkal dan sok tahu kita. Saya tidak kikir, pelit, sombong, dan saya sungguh dan insya Allah akan terus menasehati kalian, di page ini, gratis, mengingatkan siapapun, dan itu lebih dari cukup sebagai bukti tuduhan kalian dusta. Gunakanlah pemahaman2 baik itu sebagai pondasi. Kalianlah sumber motivasi terbaik untuk diri sendiri sepanjang punya pegangan terbaik.

Baiklah, akan saya tutup catatan ini dengan sajak,

Oh Allah, terbentang sajadah facebook
Panjang dan lama
Tapi terlipat sudah sajadah shalat kami
Kusam berdebu

Oh Allah, terbuka lebar2 kitab facebook 
Seru dan menghabiskan waktu
Tapi tertutup sudah kitab suci kami
Membisu di atas meja

Oh Allah, guru2 mengaji kami ditinggalkan
Kajian2 ilmu di masjid dilupakan
Pengajian2 sepi tiada peduli
Tapi ramai sekali di sini
Di tempat yang tidak saling mengenal satu sama lain

Oh Allah, malam2 kami bangun bukan utk mengingatmu
Tapi untuk mengingat hal lain
Setiap saat mendesah menyebut bukan zikir nama Engkau
Tapi setiap saat membuka hal lain

Maka semoga tetap ada yang mengingatkan kami
Terus menasehati hakikat kehidupan terbaik

*Tere Liye 


dipost Oleh Sangjurupati

BURUH MURAH

Dulu, waktu masih SMA, dalam pelajaran ekonomi, pasti dibilang, salah-satu keunggulan ekonomi Indonesia itu adalah: buruh murah. Saya sebenarnya bingung dengan poin ini. Buruh murah? Keunggulan? Itu sih sama saja 'melecehkan' kapasitas orang Indonesia. Ayo, mari investasi ke Indonesia, karena di sana orangnya murah2, dikasih gaji rendah, sudah mau kerja sepanjang hari. Kan nggak asyik melihat promosi seperti itu.

Nah, kalau mau disebut keunggulan, jenisnya adalah: tenaga kerja di Indonesia itu produktif dan rajin2. Itu baru benar. Dan atas produktif dan rajin2 itu, jelas sekali ada harganya, tidak gratis. Apakah murah? Atau mahal? Harus dilihat dengan kaca mata komprehensif, karena urusan ini hal yang sangat relatif.

Tapi apapun itu pendapat orang2, saya kira, sudah saatnya kita menghentikan jargon buruh murah ini. Cukup. Di Jakarta, gaji buruh itu memang 2,4 juta, di Surabaya menyusul akan naik jadi 2,2 juta. Tapi di sebagian besar belahan Indonesia, gaji minimum buat buruh itu masih 1 juta-an. Bekerja 40 jam per minggu, atau 160 jam per bulan, hitung saja sendiri, berapa harga tenaga orang Indonesia, hanya 6 ribu/jam.

Setiap tahun buruh2 demo, jalanan macet, imbasnya kemana2. Belum lagi di jejaring sosial, juga ribut dengan diskusi, debat, soal ini. Dan ini tidak akan berhenti tahun ini, bersiaplah di tahun2 mendatang, kesadaran para buruh atas gaji mereka terus membaik, dan mereka akan terus menuntut situasi yang lebih baik. 

Maka, jika kita berpikir dengan sudut pandang positif, sebenarnya situasi ini jadi simpel. Situasi ini akan membentuk keseimbangan baru. Di dunia ekonomi, proses menuju equilibrium baru bisa berlangsung lancar, bisa rumit. Untuk urusan gaji buruh ini, kurang lebih berikut prosesnya:

1. Jika gaji buruh terus naik, maka silahkan pengusaha berpikir sekarang. Apakah tetap produksi, atau tutup, atau pindahkan ke kota/negara lain. Toh, pengusaha juga tidak bisa maksa kalau orang yang mau dipekerjakan mintanya segitu. 
2. Saat pengusaha satu-persatu pindah, atau mulai menerapkan teknologi mesin, atau mengambil keputusan rasional lainnya, maka kebutuhan buruh mereka akan berkurang drastis.
3. Banyak buruh akan kehilangan pekerjaan; dan angkanya bisa signifikan. Toh, buruh tidak bisa memaksa pengusaha merekrut mereka; pengusaha punya hak penuh. Yang tertinggal di perusahaan adalah buruh2 dengan kualifikasi tinggi, produktif, dengan gaji tinggi pula.
4. Buruh2 yang kehilangan pekerjaan, akan memikirkan solusi lain. Bisa menjadi wiraswasta, bisa bertani, dan jenis2 pekerjaan lainnya. Atau tetap jadi pengangguran, nafkah keluarga terhenti.

Keseimbangan baru terbentuk. 

Yang jadi pertanyaan pentingnya adalah: apakah proses menuju keseimbangan baru itu akan berjalan lancar? Mulus? Itu tanggungjawab seluruh buruh yang terlibat di dalamnya. Juga tanggung-jawab pemerintah, pun kita orang2 di sekitarnya--konsumen produk hasil tenaga buruh. Semoga saja lancar. Semoga saja, dengan begini, justeru akan lahir wiraswasta baru, lahir pengusaha2 baru, lahir orang2 mandiri. Karena jika equilibrium baru ini berjalan rumit, maka hasil akhirnya bisa melenceng jauh. Saya tidak mencemaskan demo, karena ini sih kecil saja. Tapi saya mencemaskan hasil akhirnya. Semua harus siap dengan resikonya, termasuk kehilangan pekerjaan. Kan repot, request gaji tinggi, saat orang tidak mau mempekerjakan lagi, kita malah jadi pengangguran--bukannya produktif dengan hal lain.

Selamat tinggal era buruh murah. Hari ini, semua hal memang ada harganya. Dan saat orang2 sibuk menuntut harga itu, semoga juga tidak lupa, kalau orang lain juga berhak dihargai. Cepat atau lambat, saat kesadaran ini datang, di negeri ini akan berhenti sendiri orang2 yg membajak DVD, minta ini gratis, itu gratis, minta subsidi, dsbgnya. Karena kita sudah sadar semua, bahwa semua berhak dihargai sesuai kapasitasnya. Itu berarti Indonesia sudah siap masuk kategori negara maju.

Semoga begitu. Bukan sebaliknya. 


Dipost Oleh Sangjurupati

BERTEMPUR

Kita, tidak akan mengeluh, atas pilihan yang kita ambil sendiri. Tidak pantas, dan tidak patut.

Ada orang yang memutuskan pacaran, lantas pacarnya selingkuh, dia hamil, maka jangan mengeluh, adik2. Sungguh jangan. Bagaimanalah kita meletakkan harga diri, kehormatan kita? Jelas2 sekali kita sendiri yang memutuskan pacaran, kita sendiri yang melampui batas, sedangkan orang lain sudah koar2 menasehati jangan, bagaimana mungkin kita akan mengeluh atas resiko pilihan diri sendiri?

Atau contoh lain, ada orang yang memutushkan jadi guru honorer, digaji kecil sekali, belasan tahun tidak diangkat2, maka jangan mengeluh, kawan2. Sungguh jangan. Jelas sekali kita sendiri yang memilih jadi guru honorer, kita sendiri yang bersedia, bagaimana mungkin kita akan mengeluh atas resikonya? Tentu saja contoh kedua ini tidak bisa disetarakan dengan contoh pertama, yg satu jelas2 keliru, tapi fokus kita soal mengeluhnya, bukan yang lain.

Saya paham, itu manusiawi memang, dan satu-dua, boleh jadi memang hak kita. Tapi selalu cam-kan baik2: kita tidak akan mengeluh, atas pilihan yang memang kita ambil sendiri.

Jika hari ini kita hanya begitu2 saja, tidak dihargai, disitu2 saja, jangan mengeluh. Itu jelas implikasi dari keputusan yang kita ambil bertahun2 lalu. Jika kita hanya bisa jadi ini, tidak bisa jadi itu, maka jangan mengeluh. Itu jelas akibat dari apa yang dulu telah kita lakukan.

Kalau sudah terlanjur, sudah kadung demikian, saatnya untuk berdiri tegak, kokoh. Buatlah rencana2 terbaik, mengubah nasib sendiri. Karena tidak pantas kita selalu mengeluh atas situasi yang kita kunyah tiap hari, tapi kita tidak mengambil langkah kongkret. Kan jadi aneh, kita suka sekali ngomongin orang cuma teori, cuma manis kalimat, cuma jago nasehat, nyalahin orang lain (termasuk pemerintah), tapi kitalah sebenarnya mahkluk hidup yang disebut: omdo, alias omong kosong. Justeru tidak melakukan apapun atas hidup sendiri.

Kalau sudah terlanjur hamil (dalam kasus pacaran misalnya), maka usap air mata, berhenti menangis. Segera bersimpuh sujud, tobat pada Allah, tunaikan sanksi berzina tersebut, kemudian jalani hidup baru. Besarkan anak kita tersebut. Semua orang berhak atas hidup baru, new life. Masa lalu selalu tertinggal di belakang. Kita bisa jadi orang yang benar2 fresh, berubah total, dan mengerti, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kalau orang lain masih menatap sebelah mata pada kita, itu urusan orang lain. Urusan kita adalah: saya sudah menjadi orang baru yang insyaf.

Kalau sudah terlanjur jadi guru honorer bergaji kecil, tidak diangkat bertahun2 (dalam kasus pekerjaan misalnya), maka berhenti mengeluh kemana2, mengeluh ini, mengeluh itu, panggil cinta dan motivasi kenapa kita harus jadi guru. Jika tidak mampu memanggilnya, karena dulu cintanya hanya sebatas berharap diangkat jadi PNS (dan sekarang cinta itu jadi benci karena nggak diangkat2 juga), maka sudah saatnya berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Tegak, kokoh, mulai melakukan hal lain. Kita bisa menjadi orang yang benar2 fresh, berubah total, boleh jadi malah esoknya menjadi pengusaha top, selebritis terkenal, dsbgnya. Pilihannya selalu demikian. Bertahan, tanamkan cinta, atau pergi.

Apapun situasi yang kita hadapi sekarang, berhentilah mengeluh dan menyalahkan orang lain atas situasi yang kita pilih sendiri--sadar atau tidak sadar saat memilihnya. Kita ini punya kaki, punya tangan, punya otak, kita punya semua amunisi untuk bertempura dalam kehidupan. 

Mari berjuang. Kebahagiaan itu harus direngkuh dengan banyak hal. Termasuk melalui perjalanan spiritual kehidupan, hingga tiba di titik pemahaman yang baik.

*tere liye

Dipost Oleh Sangjurupati

BUMI LANGIT JARAKNYA

Bertahun2 eksis dan narsis di internet, saya menemukan banyak pengalaman menarik. Satu-dua saya simpan saja sebagai catatan biar paham, pembelajaran diri sendiri, beberapa sy tuliskan, sy bagikan yg mungkin berguna buat orang banyak. Kali ini, akan saya ceritakan sebuah kejadian menarik. Anggap saja fiksi, biar tidak ada yang tersinggung, dan cerita ini sudah di-tulis ulang sedemikian rupa dengan setting dan isu berbeda, biar tidak ada yang merasa. Pun bisa dianggap saja kisah fiksi--yg sayangnya sering terjadi di dunia nyata.

Kata kunci dari catatan ini adalah: sudah jadi kebiasaan orang, saat berdebat, maka dia akan menyebut2 latar belakang pendidikannya, menyebut2 betapa keren dan hebatnya dia, sehingga layak punya argumen. Lantas tidak puas dengan itu, dia akan menyerang dan menghina pendidikan orang lain (padahal dia tidak tahu).

Here we go, alkisah, ada seorang teman yang menulis tentang topik agama. Tulisan itu baik sekali, dilandasi pengetahuan yang komprehensif dan mendalam. Dia menulis dari banyak sumber, dan dibuat dengan amat hati2. Tapi entah kenapa, ada yang ternyata tidak sependapat, malah tersinggung. Dan orang yang tidak sependapat ini mulai menuliskan komen2 menyerang. Bilang kalau tulisan tersebut keliru, salah. Komen orang tidak sependapat ini dengan segera mendapatkan komen dari orang lain yang setuju, maka terjadilah debat kusir di halaman tersebut. Dengan cepat, tanpa menunggu waktu, semua orang akan berebut bilang pendapatnya paling benar, bilang dia punya latar belakang pendidikan yang lebih baik, sekolah di tempat yg lebih baik, dstnya, dstnya. Tidak cukup sampai disitu, untuk melampiaskan nafsu berdebat, maka orang2 juga mulai menghina, menyerang orang lain tahu apa sih? Siapa sih penulis tulisan ini? Memangnya dia ulama? Ahli tafsir? Dsbgnya?

Teman saya ini, sayangnya, memang tidak pernah memberitahu latar belakang pendidkannya. Dia bukan pesohor, bukan ustad yang sering muncul di televisi, bukan orang2 top yang seding dianggap jadi 'Nabi' di jejaring sosial. Dia simpel hanya guru di sebuah boarding school, dan mengisi waktu luang dengan menulis isu2 kontemporer tentang agama, dibagikan di blog dan akun jejaring sosialnya. Yang membaca tulisan2nya banyak, tapi tidak se-megah akun milik pesohor lain yang bisa ratusan ribu hingga jutaan.

Dalam situasi debat tidak terkendali di tulisan tersebut, maka teman saya ini memilih menghapus postingan tersebut. Kenapa dihapus? Bukankah tidak ada yang salah dengan tulisan itu? Dia punya alasan tersendiri yang tidak disebutkan, mungkin agar kerusakan yang timbul tidak lebih parah. Dengan dihapus, maka selesai sudah semua debat saling menyerang di tulisan itu (yg saling menyerang adalah orang2 yang membaca tulisan itu, bukan dia, karena dia memilih menahan diri).

Tapi, ada sebuah rahasia kecil dalam cerita ini. Saat orang2 yang tidak sependapat dengan tulisannya menyerangnya, menulis: siapa sih yang nulis ini? kayak sudah paham agama saja. Maka tidak ada yang tahu sama sekali, kalau teman kita ini, guru di salah-satu boarding school ini justeru adalah seorang hafiz Qur'an, menghafal ribuan entry hadist, lulusan Al Azhar Kairo dengan prediket cumlaude. Entahlah, apakah jika orang2 yang menghinanya itu tahu kalau dia sebenarnya bumi langit dibandingkan dengan orang yang dihinanya, apakah mereka akan menyumpal mulutnya dengan terasi. Saya tidak tahu.

Hari ini, kita menghabiskan waktu banyak sekali di jejaring sosial. Dan kita tidak bisa mencegah ekses negatifnya. Kita tidak bisa melarang orang2 berkeliaran di mana2, menumpahkan kotoran. Tidak bisa. Maka, sungguh baik teladan teman kita ini. Dia memilih solusi yang lebih bijak, tidak menanggapi orang2 yang menghinanya, atau jika situasinya sudah terlanjur rumit, dia memilih mengalah, menghapus postingan. Saya sih tidak bisa sebijak dia, saya lebih sering ngamuk2 di page saya, dan jelas tidak ada ampun bagi siapapun yang melanggar peraturan. 

Tapi apapun itu, maka semoga setidaknya kita terus belajar memperbaiki diri. Setiap kali kita tidak sependapat dgn orang lain, maka jangan menyerang orang tersebut di rumahnya, menghinanya soal pendidikan, dsbgnya. Karena boleh jadi, kita justeru sedang ditertawakan banyak orang yang tahu persis situasinya. Jika kita memang tidak sependapat, jengkel sekali, maka tulislah pendapat kita di rumah sendiri. Itu lebih baik, lebih bermanfaat. Jadilah pengguna internet yang sehat.

Adios.


Dipost Oleh Sangjurupati

SEKOLAH = PENJARA

Tidakkah kita memperhatikan
Gerbangnya terbuat dari besi
Di gerbangnya ada penjaga, 
Tembok tinggi mengelilingi 

Kelas-kelasnya tertutup jeruji
Hanya menyisakan jendela kecil
Pun pintu yang ditutup
Dari pagi hingga petang
Seluruh murid konsentrasi tinggi
Belajar secara spartan

Tidakkah kita memperhatikan
Sekolah2 kita sudah mirip penjara hari ini
Yang masuk ke dalam sana, harus bayar mahal pula
Wajah-wajah terpenjara 
Wajah-wajah sedang belajar
Entah apa bedanya lagi

Angka adalah pembeda kasta
Nilai jelek cari masalah
Menghafal mati isi buku sudah biasa
Penuh peraturan ujung ke ujung
Ini wajib, itu wajib
Hal2 yang tidak ada di kurikulum pun jadi wajib
Terserah 'sipir' bilang apa

Lantas di mana kesenangan belajar itu?
Ketika yang bodoh sekalipun memperoleh senyum
Yang paling lelet sekalipun menerima motivasi
Kepedulian ditumbuhkan
Akhlak baik ditanamkan

Tidakkah kita memperhatikan
Sekolah2 kita sudah mirip penjara hari ini
Bukan hanya fisiknya saja
Tapi juga isi dalamnya
Semua diukur secara kuantitatif
Semua dijadikan kompetisi
Tolong pikirkanlah.

*Tere Liye

Dipost Oleh Sangjurupati

KAU ADALAH WANITA TERCANTIK

Seperti janji matahari
Selalu datang esok pagi
Bagai embun di dedaunan
Bening hati tanpa balasan

Tapi kami
Hanya ingat marah dan larangmu, suruh dan tidakmu
Tapi kami
Lupa sayang dan lembutmu, kasih dan bebanmu

Seperti janji sepotong lilin
Habis terbakar demi terang
Bagai huruf A dalam kata doa
Laksana nada do dalam sebuah lagu
Kau selalu ada dan melengkapi
Kau adalah wanita tercantik…
Ibu.



Dipost Oleh Sangjurupati

SAAT HUJAN

Berteriaklah di depan air terjun tinggi,
berdebam suaranya memekakkan telinga
agar tidak ada yang tahu kau sedang berteriak

Berlarilah di tengah padang ilalang tinggi,
pucuk2nya lebih tinggi dari kepala
agar tidak ada yang tahu kau sedang berlari

Termenunglah di tengah senyapnya pagi,
yang kicau burung pun hilang entah kemana
agar tidak ada yang tahu kau sedang termangu

Dan, menangislah saat hujan,
ketika air membasuh wajah
agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan

Perasaan adalah perasaan,
Tidak kita bagikan dia tetap perasaan
Tidak kita sampaikan, ceritakan, dia tetap perasaan
Tidak berkurang satu helai pun nilainya
Tidak hilang satu daun pun dari tangkainya

Perasaan adalah perasaan,
Hidup bersamanya bukan kemalangan,
Hei, bukankah dia memberikan kesadaran
betapa indahnya dunia ini?
Hanya orang2 terbaiklah yang akan menerima kabar baik
Hanya orang2 bersabarlah yang akan menerima hadiah indah

Maka nasehat lama itu benar sekali,
Menangislah saat hujan,
ketika air membasuh wajah
agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan

*Tere Liye



Dipost Oleh Sangjurupati

CERITA SEEKOR KAMBING DAN DUA REMAJA YANG CANTIK HATINYA

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tdk berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yg menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu2, boyband, film2, dsbgnya. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yg baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid2nya utk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh2 dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pd orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yg masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yg keluar, kurang lebih sama, jd mana kepikiran untuk berkorban.

Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yg saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yg baik, bahkan lebih matang dibanding orang2 dewasa. Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu.

Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 utk jajan dan keperluan lain. Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga utk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.

Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel2 baru, jatah bulanan utk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar2an jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude. Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta.

Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya2, harga kambing di tempat penjualan2 kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yg mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain. Tapi kakaknya, Ais, yg tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya utk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh2 saja nyari harga kambing yg lebih murah sepanjang memenuhi syarat kurban. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.

Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya--kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.

Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa2 utk berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan.

Itulah kurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar2: 'Kaleng Kurban' keluarga mereka.

Masih lama hari raya kurban, masih lama banget. Tapi itulah poin pentingnya. Jika kita menghabiskan uang 100rb lebih setiap bulan utk pulsa internetan, dll, maka tidak masuk akal kita tdk punya uang utk berkorban. Belum lagi ratusan ribu buat makan di luar, nonton, jutaan rupiah buat beli gagdet, pakaian, dll. Begitu banyak rezeki, nikmat dari Tuhan, jangan sampai seumur hidup kita tdk pernah berkurban. Beli pulsa itu setelah menabung utk kurban, bukan sebaliknya berkurban datang dari sisa2 beli pulsa.

Maka buat yang tidak mampu uangnya, ayo mari menabung sejak sekarang, sisihkan. Buat yang tidak mampu niatnya--padahal uangnya banyak, ayo mari ditabung juga niatnya, dicicil, semoga saat tiba hari raya kurban, niatnya sudah utuh. Jangan sampai, seumur2 kita hidup, disuruh berkurban satu ekor kambing pun tak mampu. Apalagi saat diminta berkurban dalam hal yg serius? Ber-jihad di jalan Allah?



Dipost Oleh Sangjurupati

DUA KALI

Kenapa menyuap untuk masuk jadi PNS itu merusak sekali? Karena dengan ada orang yang menyuap, lantas berhasil masuk mengisi formasi PNS, atau jabatan2 titipan, nepotisme, maka kerusakannya DUA kali. Yang pertama, orang2 terbaik, jujur dan pekerja keras yg seharusnya mengisi posisi tersebut tidak bisa masuk. Zalim kepada orang2 ini. Yang kedua, pelayanan publik jadi kacau, jauh dari jasa layanan terbaik dan full dedikasi, diganti dengan petugas bermental selalu dipersulit, dikit2 uang kalau mau lancar. Aniaya kepada masyarakat banyak.

Kenapa sogok menyogok untuk memenangkan tender itu berbahaya sekali? Karena kerusakannya dua kali. Tender perbaikan jalan misalnya. Yang pertama, perusahaan2 terbaik yang berpengalaman memperbaiki jalan tersingkirkan. Zalim kepada perusahaan ini. Yang kedua, jalanan tersebut yg seharusnya bertahan 2-3 tahun, hanya 2-3 bulan sudah berlubang lagi. Macet, kecelakaan, terjadi di mana2. Aniaya kepada masyarakat banyak.

Mayoritas orang pengin sekali kaya. Pengin hidup makmur, punya mobil mewah, rumah mewah, pakaian jas mewah, jam tangan mewah, semua kemewahan. Sayangnya, bukannya memilih kerja keras, kreatif, mereka memilih potong kompas, malas sekali bersaing. Maka inilah yang terjadi, mulai dari proyek pembangunan gedung, hingga impor daging sapi. Mulai dari bisnis minyak hingga pengadaan meja kursi. Di lobi sana, di lobi sini. Potong kompas, minta persenan.

Prilaku menyuap, menyogok, korupsi bukan hanya merusak bisnis sehat yang bisa memunculkan kualitas terbaik, tapi juga merusak masyarakat secara langsung. Korupsi di dunia pendidikan, jelas merusak anak2 didik kita. Mereka tidak memperoleh fasilitas terbaik. Korupsi di dunia pertanian, jelas merusak gizi anak2 kita. Korupsi di infrastruktur, yang terjadi adalah banjir, macet, susah kemana2, dsbgnya, dsbgnya. Dan situasi ini ketika berlangsung lama, sudah berkarat korupnya, maka kita sama saja dengan mewarisi: satu generasi dengan pola pikir korup.

Kita harus menyiram generasi korup ini. Seperti flush toilet, kotor, jorok, harus di flush. Digantikan dengan generasi dengan pola pikir lebih baik. Mencontek misalnya, seharusnya sejak usia dini sekali, anak2 kita sudah tahu, mencontek itu jahat sekali. Jijik. Hina. Tapi sialnya, kita masih punya generasi sebelumnya yang korup. Maka apa yang terjadi? Bukannya diajarin kejujuran apapun harganya, murid2 malah dikasih jalan untuk mencontek berjamaah saat ujian. Alasannya kasihan, kasihan dan kasihan. Padahal jelas, generasi yg nyuruh mencontek ini adalah hasil dari kemalasan berkompetisi, tidak mau belajar, potong kompas, ya iyalah, pasti logikanya demikian. Coba dengarkan gaya bahasa mereka: kasihan, bos. Tolonglah, bos. Semua seperti ada rasionalitasnya, ada argumen pembenarannya.

Maka, anak2 dan adik2 remaja di page ini, kalianlah masa depan. Jadikanlah kejujuran sebagai nafas kalian. Jangan mencontek saat ujian. Belajar jauh2 hari. Kerja keras. Saya yakin, masih banyak guru2 yang jujur dan gagah perkasa soal kejujuran ini. Lawan situasi jahat di sekitar kalian. Pun masih banyak PNS, pejabat2 yang jujur, jadilah teladan. Tidak mudah memang, kadang pahit sekali, terasing, dimaki, dibenci, bahkan dalam kasus tertentu tersingkirkan. Tidak mengapa, amar ma'ruf nahi munkar itu tidak pernah mudah. Selalu diuji.

Mari benci sekali dengan prilaku korup. Pilihlah pemimpin yg tidak ada kait-mengaitnya dengan korupsi. Apalagi sudah korupsi, gaya hidup mewah pula, tidak konsisten. Harta bendanya disembunyikan, bahkan berapa jumlah pasangannya pun kita tidak tahu, ditutup2i. Jauhi mereka. Orang2 ini justeru harus di flush segera. Jangan mau ditipu berkali2 oleh orang2 ini. Seolah mereka yang dizalimi, padaha sesungguhnya, kita semua yang sedang dizalimi.

Jadi orang jujur itu sungguh membahagiakan. Insya Allah, kalaupun tidak bahagia di dunia, kelak di akherat, pasti. Kemuliaan hidup tidak akan tertukar.



Dipost Oleh Sangjurupati

SAJAK UN


Jika cinta adalah pilihan, maka dia persis soal pilihan ganda.

Jika cinta adalah alasan, maka dia persis soal essay.

Jika cinta adalah kesempatan, maka dia persis soal "benar" atau "salah".

Jika cinta adalah kecocokan, maka dia persis soal mencocokkan daftar A dengan daftar B.

Entahlah. Jenis soal seperti apa cinta ini.
Yang pasti, tidak ada cinta yang tidak pernah diuji, dek.
Dan ketahuilah, semakin tinggi cinta itu, maka akan semakin dahsyat ujiannya.
Jangan mengeluh.
Jangan risau.
Hanya orang2 terbaik yang akan lulus.
Lantas melihat kristal cintanya begitu indah.

*Tere Liye


dipost Oleh Sangjurupati

SAJAK TUAN & NYONYA (POLITIK)

Bagi kami,
Banjir adalah banjir
Bukan soal politik dan politik

Sudah terlalu lama karut-marut kota ini
Sudah terlalu berkarat korupsinya
Peruntukkan lahan entah apa kabarnya
Pembangunan infrastruktur terlupakan
Di hulu sana, hutan habis
Di hilir sini, sungai menyempit, waduk hilang

Bagi kami,
Banjir adalah banjir
Kami tidak peduli siapapun yang berkuasa
Sepanjang banjir ini bisa teratasi
Bukan tambah direcoki dengan hingar-bingar
Sekadar mencari simpati politik

Maka,
Sudilah Tuan, Nyonya, berhenti membawa2 soal politik
Bisakah dicopot sebentar poster partai, baliho, spanduk, foto2 caleg di posko bantuan.
Kami tahu, Tuan, Nyonya ihklas sekali, tapi bisakah dicopot sebentar?
Agar sebentar saja kami bisa menyaksikan betapa indahnya semua kepedulian ini, tanpa harus penuh simbol dan foto2.
Dan kita juga bisa berhenti sejenak berpesta-pora
Menjadikan banjir ini sebagai amunisi menyerang lawan politik.

Bagi kami,
Banjir adalah banjir.

*Tere Liye



Dipost Oleh Sangjurupati

Minggu, 12 Januari 2014

KEMAMPUAN MENYULAM KATA

Ada sebuah hadist yang sangat terkenal, saya tuliskan terjemahannya:

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” --Sahih Bukhari & Muslim

Jika kemampuan membaca kita terbatas, maka kesimpulan kita adalah: bertemanlah dengan penjual minyak wangi; jangan dengan pandai besi. Dan segeralah, para pandai besi dan simpatisannya akan protes, enak saja, apa dosa saya sebagai pandai besi? Sehingga saya tidak boleh dijadikan teman? Jangan menghina saya dong, memangnya saya buruk? Jika kalimat2 ini tidak dijelaskan hadist Nabi, di dunia maya hari ini, mulai dari website berita, jejaring sosial, respon yang paling mungkin justeru sejenis ini.

Lantas apakah kalimat tersebut memang sedang menistakan pandai besi? Menghinakan posisinya? Sungguh Rasul Allah terlalu mulia untuk melakukannya, dan jelas Rasul tidak sedang menghina pandai besi.

Kalimat ini NETRAL sekali.

Hanya perumpamaan, hanya sebuah penjelasan, sebuah permisalan. Jika kalian berteman dengan A, maka A. Jika kalian berteman dengan B, maka B. Jika kalian makan cabe, maka pedas (lazimnya), jika makan garam, maka asin (lazimnya). Silahkan pikirkan konsekuensi tersebut. Karena jarang terjadi, makan cabe dapatnya asin, makan garam dapatnya pedas. Netral sekali, sebuah ilustrasi yang sangat sederhana dan akurat. Apakah makan cabe lebih baik dibanding makan garam? Tentu tidak, karena itu pilihan netral. Silahkan.

Nah, dengan sedikit kemampuan analogi, kemampuan memikirkan contoh lain yang sejenis, kita disuruh berpikir. Think! Apakah kita bersedia berteman dengan orang2 yang suka mabuk2an? Berzina? Ngobat? Atau kita mau berteman dengan orang2 yang rajin belajar, giat bekerja dan saleh? Kalau yang ini jelas pilihan, tidak lagi netral secara akal sehat. Situasinya ada pilihan yang lebih baik.

Hari ini, orang2 pintar semua membaca, belum selesai dibaca saja, sudah tahu semua. Tapi diakui atau tidak, tak semua orang bisa menangkap poin terpentingnya. Kenapa tidak bisa? Bukan karena bodoh. Melainkan karena terlanjur berpikir negatif dan tersinggung. Saya kasih contoh, misalnya saya menulis: murid2 yang cemerlang tidak akan lahir dari sekolah dgn guru2 rakus, dikit2 jadi lahan bisnis, seragam, jalan2, jadi bisnis semua; Tapi murid2 yang cemerlang akan lahir dari sekolah dgn guru2 yang tulus, penuh pengorbanan, dicintai dan mencintai muridnya.

Kalimat tersebut lurus sekali. A benar, B benar, A dan B berhubungan, konklusi benar. Lantas kenapa ada yang marah2, ngamuk, langsung berseru: jangan menghina guru dong, jangan merendahkan guru, memangnya Anda dulu tidak punya guru? dasar tidak tahu terimakasih. Aduhai, siapa yang sedang merendahkan siapa? Jika kita terlanjur tersinggung, maka kalimat bersahaja sekalipun tetap saja terasa menyakitkan. Hingga lupa, dengan komen kita tersebut, kita membuka aib sendiri--bahwa kita memang dikit2 dijadikan lahan bisnis. Coba baca lagi kalimat tersebut, dengan menghela nafas lapang, pasti berbeda rasanya.

Saya kasih misal lainnya: "Selamat kepada KPK yang terus menangkapi koruptor, terus berjuang menebaskan pedang keadilan, habisi koruptor." Kalimat ini lagi2 lurus sekali. A benar, B benar, A dan B berhubungan, konklusi benar. Masa' saya menulis: "Hancurlah KPK, semoga dibubarkan, mari bela koruptor." Itu jelas ngaco kalimatnya, bolehlah orang2 protes. Tapi kenapa dengan kalimat2 benar tersebut tiba2 banyak (sekali lagi saya ulangi: BANYAK) yang tiba2 komentar marah2, tersinggung, menyerang KPK, menghina KPK, bahkan tidak ketingalan memaki saya, aduh, ini kan membingungkan sekali. Di mana letak salahnya kalimat tsb? Soal tuduhan KPK itu tebang pilih, agen SBY, dsbgnya, duh, kita tidak sedang membahas hal tsb dalam kalimat. Saya tahu, orang2 berpikiran negatif dan mudah tersinggung itu memang suka kemana2 mikirnya, tapi mbok ya jangan kejauhan, terlanjur tidak satu frekuensi. Beda zona waktu.

My dear anggota page, jangan mudah sekali marah2 hanya karena postingan orang lain. Karena berpikir negatif, mudah sekali tersinggung, hanya akan membuat hati kita membatu. Mengeras. Dan kita kehilangan kesempatan memperoleh hikmah tersembunyi.

Terakhir sebagai penutup, biar ada korelasinya dengan pembuka catatan ini, jika kalian mau jadi penulis, belajarlah dari gaya bahasa Al Qur'an dan Hadist nabi, itu adalah sumber belajar menulis yang menakjubkan. Seandainya saja kemampuan bahasa Arab saya se-level native speaker, mother tongue, saya akan menuliskan sajak2 di page ini dalam bahasa Arab saja. Tapi baiklah, cukup dari membaca terjemahannya saja sudah sangat menakjubkan. Pun jika kalian mau menjadi pembaca yg mampu menyulam kata dengan baik, banyak2lah membaca Al Qur'an dan hadist Nabi--bukan membaca status dan tweet.

Demikian. Sangjurupati

7 PERATURAN JATUH CINTA



Kalian harus menguasai 'peraturan jatuh cinta' sbb:

1. Jatuh cinta itu memulainya amat mudah, tapi menghentikannya susah payah.

Pahami peraturan sederhana ini. Buat kalian yang belum pernah jatuh cinta mungkin tidak tahu, tapi buat yang sekarang lagi patah hati, mereka sudah level S-3 atau profesor pahamnya. Maka, kalau kalian percaya dengan peraturan ini, berhati2lah selalu untuk jatuh cinta, bukan sebaliknya, malah asyik bermain dengan perasaan. Jangan coba2 membuka bendungan hati kalian, nanti jebol tidak terkendali.

2. Jatuh cinta itu tidak pernah rumit. Sederhana. Selalu sederhana. Tapi orang2nya lah yang membuat rumit.

Camkan baik2. Lagi2, buat kalian yang belum pernah jatuh cinta mungkin tidak paham, tapi besok lusa, ketika kalian mencemplungkan diri dalam urusan ini, ingat peraturan tersebut. Kitalah yang selalu membuat rusuh, galau, ribet, bego diri sendiri. Jatuh cintanya sih nggak. Cinta itu selalu simpel. Orang2nya yg rumit. Dalam urusan yang sudah pasti sekalipun orang2 tetap saja membuat rumit, apalagi dengan perasaan tidak jelas, hubungan tdk lurus, lebih rumit lagi.

3. Cinta itu bisa redup, bahkan padam, pun juga bisa menyala tinggi. Tergantung kita.

Bohong banget kalau cinta orang itu terussss saja menyala tinggi. Itu hanya trik pemasaran film, buku2, dsbgnya. Dilebih2kan, biar yang nonton atau baca senang hatinya. Cinta itu persis seperti api unggun. Kita sendiri yang menentukan apakah api unggun itu akan terus menyala atau padam. Nah, kebanyakan, orang2 bahkan sukarela menyiram api unggunnya dengan minyak tanah sekontainer, maka menyala tinggilah dia sesaat, membakar dirinya sendiri, merusak. Tanpa sempat berpikir, apakah perasaannya itu sungguhan atau karena dia tidak mampu mengendalikan diri. Tanyakan ke orang tua kalian, yang membuat pernikahan itu awet hingga 50 tahun, bukan karena cintanya terus menyala tinggi. Tapi karena mereka punya komitmen, kepercayaan. Dengan dua hal tsb mereka memutuskan untuk jatuh cinta lagi, jatuh cinta lagi pada suami/istrinya hingga bertahan puluhan tahun.

4. Jatuh cinta itu tidak bisa membuat kenyang. Pun, jatuh cinta tidak bisa membuat kita produktif.

Saya serius. Memang betul, orang2 bisa saja enggan makan saat hatinya sedang riang karena cinta. Tapi itu tidak membuat kenyang. Come on, lebih penting krisis kelaparan di negara Afrika sana dibanding krisis cinta satu dunia. Jika kalian paham peraturan ini, maka kalian akan tahu: ada banyak hal lebih penting dibandingkan urusan jatuh cinta. Juga benar, orang2 yang jatuh cinta memang lebih kreatif, lebih semangat, tapi itu tidak membuatnya otomatis produktif. Saat dia berhasil membuat novel, lagu atau karya2 monumental, itu karena ybs sendiri memang produktif, bukan karena perasaan tsb. Coba saja lihat, milyaran orang2 jatuh cinta, tdk semuanya jadi pencipta karya masterpiece.

5. Jatuh cinta itu harus diuji, bukan diterima apa adanya

Hari ini, banyak sekali orang2 yang mudah jatuh cinta, lantas bilang, telah kuberikan segalanya untuknya. Aduh, kalian kebanyakan nonton film atau baca buku tentang cinta deh. Jatuh cinta itu butuh diuji, habis2an. Bukan dengan tangan terbuka malah diterima begitu saja. Bahkan dalam fase paling awal, ketika perasan itu mulai berkecambah di hati. Jika kalian menyukai orang lain misalnya, maka silahkan diuji. Minimal uji dengan waktu dan jarak. Apakah perasaan tsb memang semakin besar atau semakin kecil. Habis2an diujinya. Bila perlu disimpan dalam hati selama bertahun2. Jika memang jodohnya, pasti akan jadi. Bukan malah terlihat murahan banget. Di jejaring sosial, berceceran, tumpah bikin becek di mana2 perasaan kita.

6. Jatuh cinta itu bukan alat pembenaran diri.

Contoh paling kacau adalah ketika dua orang sesama jenis bilang mereka jatuh cinta dan maksa menikah? Hello, memangnya dengan kata cinta kita bisa menganulir berjuta peraturan dunia? Bilang semuanya jadi oke dan dibenarkan. Hei, 'cinta' itu bukan argumen. Maka juga saat ada pasangan beda agama ingin menikah, 'cinta' itu bukan alat pembenaran, yang kemudian membuat gugur peraturan lainnya. Kalau pengin melanggar peraturan agama, langgar saja, tidak perlu bawa2 kata cinta. Pahami peraturan ini, cinta bukan alat pembenaran, buat kalian yang mencemplungkan diri dalam perasaan ini, maka 'cinta' bukan alasan kalian menyerahkan segalanya, 'cinta' bukan pembenaran untuk disakiti, 'cinta' bukan pembenaran untuk merusak diri sendiri. Please, jangan mau dibuat bego.

7. Kita yang mengendalikan perasaan, bukan sebaliknya.

Pahami peraturan ini baik-baik. Mau seheboh apapun perasaan itu, kitalah yang mutlak mengendalikan kemudi perasaan. Jangan ijinkan perasaan mengambil-alih. Gunakan akal sehat. Kalian harus tahu, utk orang yang jatuh cinta, bahkan saat yg dicintainya itu jahat, dia tetap saja merasa baik. Saat yg dicintainya itu berkhianat, selingkuh, dia tetap saja punya alasan atau penjelasan baiknya. Padahal, orang sedunia juga tahu itu tindakan bodoh. Kenapa tetap dilakukan? Karena dia membiarkan perasaan mengendalikan akal sehatnya. Jika kita tidak mampu utk mengendalikan kemudinya, minta pendapat orang lain, seperti orang tua, sahabat baik, dengarkan nasehat mereka, bukan sebaliknya.

Silahkan pahami 7 peraturan jatuh cinta ini.  Sangjurupati

Rabu, 08 Januari 2014

SAJAK SAAT KITA...

Saat kita mandi,
Rambut basah hanya bertahan paling hitungan menit
Apalagi badan basah, segera kering dilap dengan handuk
Tapi rasa segar tersisa berjam-jam kemudian
Itulah hakikatnya

Saat kita membaca buku,
Membalik halaman demi halaman paling hanya hitungan jam
Mungkin jika buku tebal, butuh ber-hari-hari
Tapi pengetahuan dan inspirasi tertinggal lama di kepala
Itulah sejatinya

Saat kita menyiramkan air ke atas pot bunga
Segera meresap dan kering tanahnya
Tidak bersisa airnya entah pergi kemana 
Tapi bunga itu tumbuh subur dan merekah esok lusa
Itulah poin terpentingnya

Maka,
Kebersamaan mungkin hanya sebentar saja
Dunia ini pasti dihabisi oleh waktu
Dan catatan kisah hilang ditelan sejarah
Tiada yang tahu betapa indah cerita itu
Siapa peduli satu cinta di antara milyar?
Tapi tidak mengapa, kenangan akan tertinggal
Itulah hakikatnya


Dipost Oleh Sangjurupati

RUMIT NAN COMPLICATED

Kenapa kita tidak bahagia? Apakah kita sama seperti seorang pedagang tua, yang punya dua toko. Satu toko khusus menjual es balok, satu toko lagi khusus menjual baju hangat? Ketika musim penghujan yang dingin, toko es baloknya sepi sekali, tapi toko baju hangatnya ramai; maka sedihlah pedagang ini memikirkan toko es baloknya. Pun ketika musim kemarau yang panas, toko es baloknya ramai, tapi toko baju hangatnya sepi sekali; dan maka sedihlah pedagang ini memikirkan toko baju hangatnya. Dengan demikian, sepanjang tahun, muram durja lah pedagang tua ini.

Apakah kita tidak bahagia seperti pedagang tua ini? Yangseolah memiliki sumber tidak bahagia abadi--apapun musimnya? Hingga lupa, bahwa dia sejatinya punya sumber kebahagiaan abadi--apapun pula musimnya. Hanya soal apakah dia mau memeluk erat kabar baiknya (melihat toko2nya yang ramai), atau memeluk erat kabar buruknya.

Kenapa kita tidak bahagia? Apakah kita sama seperti orang2 yang ketika siang hari pengin tidur, tapi harus kerja. Siang hari, pengin istirahat dari pagi hingga petang, tapi banyak pekerjaan. Dan sebaliknya, ketika malam hari tiba, yang seharusnya tidur lelap, istirahat, tapi malah memutuskan begadang, terjaga terus hanya untuk melakukan hal sia-sia? Bersantai-santai. Lantas esoknya mengeluh kurang tidur, dsbgnya. Seolah keinginan diri tidak kompak dengan realitas dunia? Atau hei, jangan2 diri sendiri yang membuat repot urusan? Karena orang2 memang seharusnya tidur di malam hari, beraktivitas di siang hari--kecuali yang harus bekerja malam.

Kenapa kita tidak bahagia? Apakah kita sama seperti orang2 yang menginginkan sekali pekerjaan orang lain; tapi lupa, kalau pekerjaan yang dia punya sekarang sebenarnya banyak sekali yang mendambakannya? Menginginkan sekali sekolah atau kuliah di tempat tertentu, tapi dia lupa, kalau berjuta orang rela memberikan apapun demi bisa sekolah/kuliah di tempatnya sekarang? Seperti anak kecil, yang ingin mainan temannya, padahal dia sudah punya banyak sekali mainan--malah punya yang persis seperti mainan temannya itu.

Kenapa kita tidak bahagia? Apakah kita termasuk orang2 yang ingin sekali berjodoh, memiliki seseorang (yang tidak tergapai), tapi lupa di sekitar kita, belasan orang lain menatap kita penuh harap, menunggu kita meliriknya. Hanya untuk kemudian kita bilang, cinta itu tidak adil, orang yang kita inginkan egois, kita tidak mendapatkannya, lupa, belasan orang lain juga bisa berkata sama, gara2 kita.

Kenapa kita tidak bahagia? Apakah kita memang punya sumber tidak bahagia sepanjang hari? Sepanjang tahun? Karena kalaupun memang punya sumbernya --seperti dizalimi terus menerus; atau ditipu, dikhianati sepanjang umur-- bukankah secara serempak, simultan dari hal yang sama tersebut, kita juga punya sumber untuk bahagia? 

Jangan-jangan, kenapa kita tidak bahagia, simply karena kita sendiri yang memang tidak mau. Ketika kita bilang rumit, complicated, justeru kita sendirilah yang membuatnya begitu. Ketika kita bilang susah, menyebalkan, kita sendirilah yang menjadikannya demikian. Dan kunci jawabannya sederhana pula: tinggal bergeser satu langkah, gunakan sudut pandang yang berbeda sedikit saja, jangan-jangan kita telah menemukan sumber kebahagiaan tiada ternilai.

Kenapa kita tidak bahagia? Maka ingatlah sebuah nasehat klasik orang tua. Sungguh, kita bisa bernyanyi kapan saja, di mana saja, meskipun kita tidak punya lagu-nya. Kita bisa menari apa saja, meskipun kita tidak punya tarian dan tidak tahu bagaimana menari. Hanya soal, hei, kita mau menyanyi dan menari tidak? Sekali kita berhasil mengurai sumpeknya hati, menemukan sumber kebahagiaan tersebut, peluk erat, jangan lepaskan lagi. Agar kita senantiasa selalu pandai bersyukur. 

Demikian.


Dipost Oleh Sangjurupati

MAU DIAPAKAN?

Jangankan kita yang masih remaja, usia SD, SMP atau SMA, yang lebih dewasa dibanding kita pun masih mengalami krisis identitas bagaimana meletakkan jejaring sosial seperti facebook, twitter, dsbgnya itu. Bahkan, dalam kasus yg sangat ekstrem, usia 50, 60 tahun, galau dan labil sekali meletakkan posisi jejaring sosial itu seperti apa.

Maka, itu memang jadi pertanyaan menarik, mau kita apakan akun jejaring sosial kita? Jawabannya banyak. Ada yang bilang: terserah masing2. Kita hidup di jaman kebebasan, mau ngapain juga terserah. Dan memang silahkan saja, nggak ada yang melarang. Saya menulis catatan ini hanya bagi yang mau memikirkannya saja.

Mau kita apakan akun jejaring sosial kita? Saya akan berikan saja kaki2 penjelasan, yang dari itu semoga kalian bisa menjawab pertanyaan penting tersebut. Mau diapakan jejaring sosial ini? Tidak perlu sependapat dgn saya, semua orang berhak mempunyai argumen masing2, dan akan sangat bermanfaat jika dituliskan sendiri di rumah masing2.

Here we go,

Yang pertama, menurut hemat saya, akun jejaring sosial itu tidak berbeda secara substantif dengan dunia nyata sebagai sarana bersosialisasi. Kita bisa berkenalan, bersilaturahmi, bisa bergaul dengan siapapun di dunia maya. Pun sama, di dunia nyata juga begitu. Kita bisa mengenal tetangga sebelah, teman sekolah, teman satu RT, teman sekantor, teman satu bus/kereta dsbgnya. Nah, sayangnya, banyak orang yang lupa, bukankah kalau di dunia nyata, kita pasti sebal sekali ketika ada teman satu sekolah dengan lebaynya tiba2 bilang di kelas, "eh, kemarin gue barusan dari Paris loh. lihat fotonya. habis itu dari Singapore loh. juga mampir ke bangkok, ini fotonya." Atau tiba-tiba ada teman sekelas yang berseru ke kita, "Gue benci banget sama hidup ini. Frustasi menyebalkan." atau tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Ya Tuhan, tolong jadikan dia milikku, please, please." Atau lagi di pasar rame, tiba2 ada yang berdoa dengan lantang, "ya Allah, semoga aku punya rumah bagus. please aminkan dong." Saya jamin, pasti di kelas atau di pasar itu pada bengong, ini anak lagi kenapa ya?

Di dunia nyata, orang2 dengan segera bisa paham potensi lebay, narsis, ngeksis ini. Dan segera bengong jika ada orang di sekitar melakukannya. Tapi kenapa ketika masuk ke dunia maya, orang2 merasa wajar bertingkah 10x lebih lebay, narsis dan ngeksis? Tidakkah situasinya sama persis? Atau di dunia maya, orang2 merasa lebih nyaman melakukannya karena orang di sekitar tidak akan segera menatap bingung, lantas berseru, "Ini anak lagi kenapa?"

Yang kedua, menurut hemat saya akun jejaring sosial itu bukan tempat kita bisa bebas meletakkan segala hal. Keliru sekali kalau orang2 merasa jejaring sosial adalah teman baiknya saat sedang galau, sakit hati, dsbgnya. Juga tempat 'beribadah'-nya. Tempat apapun yang hendak dia tumpahkan. Ketahuilah, apapun yang kita tulis di jejaring sosial maka dia tersimpan rapi disana--bahkan meski sudah kita remove total, dia tetap tersimpan (kalau ada yang ternyata menyimpannya lebih dulu dgn tujuan apapun). Kalian mungkin tidak percaya, tapi sudah banyak sekali bagian SDM / HR perusahaan ketika melakukan rekrutmen mereka melakukan cek, verifikasi akun2 jejaring sosial kandidat karyawannya. Juga untuk keperluan lain, menelusuri profile jejaring sosial orang lain bisa jadi cara efektif untuk melakukan penilaian. Kalau ada yang punya anak gadis, lantas dia dilamar oleh orang, boleh jadi cek profile jejaring sosial orang yang melamarnya bisa jadi petunjuk.

Memang benar, jejaring sosial ini hanya main2 saja, seru2an, tapi bukan berarti menumpahkan keluh kesah, galau, sakit hati, doa, foto, pamer dsbgnya termasuk definisi main2. Silahkan lakukan, manusiawi, tapi ada batas2nya. Status2 berlebihan amat mengundang kejahatan dunia maya. Bertumpuk kasusnya, yang terlihat di koran2, media massa, itu hanya puncak kecilnya, sedangkan yang tersimpan rapat (karena korbannya malu mengaku) banyak sekali. Remaja kita yg memilih tutup mulut setelah jadi korban kejahatan.Ketahuilah, dari 40 juta lebih akun facebook misalnya, data resmi merilis ada 8%, atau lebih dari 3 juta akun palsu dengan tujuan tertentu termasuk tujuan penipuan, kejahatan. Bayangkan, ada 3 juta akun sejenis ini berkeliaran. Korban paling empuknya adalah: wanita.

Yang ketiga, kehidupan itu ada di dunia nyata. Bukan di sini. Seseorang yang punya foto profile ganteng, mulus, keren, maka tetap saja yang dilihat orang di dunia nyatanya bukan? Seseorang yang cantik sekali, terlihat baik hati, menawan, rajin menabung dan cuci tangan sebelum tidur di dunia maya, maka tetap saja yang dilihat dunia nyatanya? Pun sama, ketika orang terlihat bijak sekali di dunia maya, maka yang dilihat adalah dunia nyatanya. Status, update yg dia tulis tidak serta merta membalik kenyataan sebenarnya.

Maka, kalaupun kita eksis dan narsis, orang2 tetap melihat apakah sekolah kita lancar? Nilai bagus? Pekerjaan kita beres, karir menanjak? Kalaupun kita terlihat care nan perhatian dengan anak2, maka yang dilihat bagaimana dengan anak2 kita? Jangan2, kita asyik update status, eh, anak kita malah sedang jatuh lari2an di sekitar kita, tidak sempat kita perhatikan. Kehidupan itu ada di dunia nyata. Di jejaring sosial kita terlihat bahagia, punya foto di luar negeri, di mana2, kayaknya keren sekali, maka apakah kita bahagia atau tidak adalah di dunia nyata. Karena kehidupan itu ada di dunia nyata--bukan di jejaring sosial. Jadi, kalau kita remaja, merasa eksis dan gaul sekali di jejaring sosial, tetap saja yang paling penting dunia nyata. Dunia maya ini bukan pelarian. 

Kita semua harus konsen sekali soal jejaring sosial ini, karena dampak jejaring sosial lebih serius dibanding ketika televisi dulu ditemukan. Jaga anak2 kita yang masih remaja. Jelas kita tidak bisa melarang mereka main facebookan, dll, tapi berikan pemahaman yang baik. Tidak semua yang ada di jejaring sosial itu bermanfaat dan positif. Dalam level paling rendah dan segera terlihat, jika tidak pandai memanfaatkannya, remaja kita bisa terjebak dalam kesia2an. Dan dalam level lebih serius, semoga mereka tidak mengalami krisis identitas yang serius, serba meniru, serba menerima kebiasaan, lupa kalau kita selalu bisa memikirkan mana yang sebenarnya baik, mana yang sebenarnya adalah diri kita sendiri. Prinsip2 terbaik. Dan level lebih super serius lagi, semoga mereka tidak jadi korban kejahatan dunia maya yang semakin menggila--sadar atau tidak, tahu atau tidak.

Demikian. Adios.


Dipost Oleh Sangjurupati