Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Miftahul Munir Blogspot Punya

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

fb

Senin, 13 Januari 2014

CERITA SEEKOR KAMBING DAN DUA REMAJA YANG CANTIK HATINYA

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tdk berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yg menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu2, boyband, film2, dsbgnya. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yg baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid2nya utk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh2 dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pd orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yg masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yg keluar, kurang lebih sama, jd mana kepikiran untuk berkorban.

Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yg saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yg baik, bahkan lebih matang dibanding orang2 dewasa. Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu.

Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 utk jajan dan keperluan lain. Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga utk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.

Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel2 baru, jatah bulanan utk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar2an jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude. Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta.

Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya2, harga kambing di tempat penjualan2 kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yg mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain. Tapi kakaknya, Ais, yg tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya utk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh2 saja nyari harga kambing yg lebih murah sepanjang memenuhi syarat kurban. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.

Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya--kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.

Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa2 utk berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan.

Itulah kurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar2: 'Kaleng Kurban' keluarga mereka.

Masih lama hari raya kurban, masih lama banget. Tapi itulah poin pentingnya. Jika kita menghabiskan uang 100rb lebih setiap bulan utk pulsa internetan, dll, maka tidak masuk akal kita tdk punya uang utk berkorban. Belum lagi ratusan ribu buat makan di luar, nonton, jutaan rupiah buat beli gagdet, pakaian, dll. Begitu banyak rezeki, nikmat dari Tuhan, jangan sampai seumur hidup kita tdk pernah berkurban. Beli pulsa itu setelah menabung utk kurban, bukan sebaliknya berkurban datang dari sisa2 beli pulsa.

Maka buat yang tidak mampu uangnya, ayo mari menabung sejak sekarang, sisihkan. Buat yang tidak mampu niatnya--padahal uangnya banyak, ayo mari ditabung juga niatnya, dicicil, semoga saat tiba hari raya kurban, niatnya sudah utuh. Jangan sampai, seumur2 kita hidup, disuruh berkurban satu ekor kambing pun tak mampu. Apalagi saat diminta berkurban dalam hal yg serius? Ber-jihad di jalan Allah?



Dipost Oleh Sangjurupati

DUA KALI

Kenapa menyuap untuk masuk jadi PNS itu merusak sekali? Karena dengan ada orang yang menyuap, lantas berhasil masuk mengisi formasi PNS, atau jabatan2 titipan, nepotisme, maka kerusakannya DUA kali. Yang pertama, orang2 terbaik, jujur dan pekerja keras yg seharusnya mengisi posisi tersebut tidak bisa masuk. Zalim kepada orang2 ini. Yang kedua, pelayanan publik jadi kacau, jauh dari jasa layanan terbaik dan full dedikasi, diganti dengan petugas bermental selalu dipersulit, dikit2 uang kalau mau lancar. Aniaya kepada masyarakat banyak.

Kenapa sogok menyogok untuk memenangkan tender itu berbahaya sekali? Karena kerusakannya dua kali. Tender perbaikan jalan misalnya. Yang pertama, perusahaan2 terbaik yang berpengalaman memperbaiki jalan tersingkirkan. Zalim kepada perusahaan ini. Yang kedua, jalanan tersebut yg seharusnya bertahan 2-3 tahun, hanya 2-3 bulan sudah berlubang lagi. Macet, kecelakaan, terjadi di mana2. Aniaya kepada masyarakat banyak.

Mayoritas orang pengin sekali kaya. Pengin hidup makmur, punya mobil mewah, rumah mewah, pakaian jas mewah, jam tangan mewah, semua kemewahan. Sayangnya, bukannya memilih kerja keras, kreatif, mereka memilih potong kompas, malas sekali bersaing. Maka inilah yang terjadi, mulai dari proyek pembangunan gedung, hingga impor daging sapi. Mulai dari bisnis minyak hingga pengadaan meja kursi. Di lobi sana, di lobi sini. Potong kompas, minta persenan.

Prilaku menyuap, menyogok, korupsi bukan hanya merusak bisnis sehat yang bisa memunculkan kualitas terbaik, tapi juga merusak masyarakat secara langsung. Korupsi di dunia pendidikan, jelas merusak anak2 didik kita. Mereka tidak memperoleh fasilitas terbaik. Korupsi di dunia pertanian, jelas merusak gizi anak2 kita. Korupsi di infrastruktur, yang terjadi adalah banjir, macet, susah kemana2, dsbgnya, dsbgnya. Dan situasi ini ketika berlangsung lama, sudah berkarat korupnya, maka kita sama saja dengan mewarisi: satu generasi dengan pola pikir korup.

Kita harus menyiram generasi korup ini. Seperti flush toilet, kotor, jorok, harus di flush. Digantikan dengan generasi dengan pola pikir lebih baik. Mencontek misalnya, seharusnya sejak usia dini sekali, anak2 kita sudah tahu, mencontek itu jahat sekali. Jijik. Hina. Tapi sialnya, kita masih punya generasi sebelumnya yang korup. Maka apa yang terjadi? Bukannya diajarin kejujuran apapun harganya, murid2 malah dikasih jalan untuk mencontek berjamaah saat ujian. Alasannya kasihan, kasihan dan kasihan. Padahal jelas, generasi yg nyuruh mencontek ini adalah hasil dari kemalasan berkompetisi, tidak mau belajar, potong kompas, ya iyalah, pasti logikanya demikian. Coba dengarkan gaya bahasa mereka: kasihan, bos. Tolonglah, bos. Semua seperti ada rasionalitasnya, ada argumen pembenarannya.

Maka, anak2 dan adik2 remaja di page ini, kalianlah masa depan. Jadikanlah kejujuran sebagai nafas kalian. Jangan mencontek saat ujian. Belajar jauh2 hari. Kerja keras. Saya yakin, masih banyak guru2 yang jujur dan gagah perkasa soal kejujuran ini. Lawan situasi jahat di sekitar kalian. Pun masih banyak PNS, pejabat2 yang jujur, jadilah teladan. Tidak mudah memang, kadang pahit sekali, terasing, dimaki, dibenci, bahkan dalam kasus tertentu tersingkirkan. Tidak mengapa, amar ma'ruf nahi munkar itu tidak pernah mudah. Selalu diuji.

Mari benci sekali dengan prilaku korup. Pilihlah pemimpin yg tidak ada kait-mengaitnya dengan korupsi. Apalagi sudah korupsi, gaya hidup mewah pula, tidak konsisten. Harta bendanya disembunyikan, bahkan berapa jumlah pasangannya pun kita tidak tahu, ditutup2i. Jauhi mereka. Orang2 ini justeru harus di flush segera. Jangan mau ditipu berkali2 oleh orang2 ini. Seolah mereka yang dizalimi, padaha sesungguhnya, kita semua yang sedang dizalimi.

Jadi orang jujur itu sungguh membahagiakan. Insya Allah, kalaupun tidak bahagia di dunia, kelak di akherat, pasti. Kemuliaan hidup tidak akan tertukar.



Dipost Oleh Sangjurupati

SAJAK UN


Jika cinta adalah pilihan, maka dia persis soal pilihan ganda.

Jika cinta adalah alasan, maka dia persis soal essay.

Jika cinta adalah kesempatan, maka dia persis soal "benar" atau "salah".

Jika cinta adalah kecocokan, maka dia persis soal mencocokkan daftar A dengan daftar B.

Entahlah. Jenis soal seperti apa cinta ini.
Yang pasti, tidak ada cinta yang tidak pernah diuji, dek.
Dan ketahuilah, semakin tinggi cinta itu, maka akan semakin dahsyat ujiannya.
Jangan mengeluh.
Jangan risau.
Hanya orang2 terbaik yang akan lulus.
Lantas melihat kristal cintanya begitu indah.

*Tere Liye


dipost Oleh Sangjurupati

SAJAK TUAN & NYONYA (POLITIK)

Bagi kami,
Banjir adalah banjir
Bukan soal politik dan politik

Sudah terlalu lama karut-marut kota ini
Sudah terlalu berkarat korupsinya
Peruntukkan lahan entah apa kabarnya
Pembangunan infrastruktur terlupakan
Di hulu sana, hutan habis
Di hilir sini, sungai menyempit, waduk hilang

Bagi kami,
Banjir adalah banjir
Kami tidak peduli siapapun yang berkuasa
Sepanjang banjir ini bisa teratasi
Bukan tambah direcoki dengan hingar-bingar
Sekadar mencari simpati politik

Maka,
Sudilah Tuan, Nyonya, berhenti membawa2 soal politik
Bisakah dicopot sebentar poster partai, baliho, spanduk, foto2 caleg di posko bantuan.
Kami tahu, Tuan, Nyonya ihklas sekali, tapi bisakah dicopot sebentar?
Agar sebentar saja kami bisa menyaksikan betapa indahnya semua kepedulian ini, tanpa harus penuh simbol dan foto2.
Dan kita juga bisa berhenti sejenak berpesta-pora
Menjadikan banjir ini sebagai amunisi menyerang lawan politik.

Bagi kami,
Banjir adalah banjir.

*Tere Liye



Dipost Oleh Sangjurupati

Minggu, 12 Januari 2014

KEMAMPUAN MENYULAM KATA

Ada sebuah hadist yang sangat terkenal, saya tuliskan terjemahannya:

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” --Sahih Bukhari & Muslim

Jika kemampuan membaca kita terbatas, maka kesimpulan kita adalah: bertemanlah dengan penjual minyak wangi; jangan dengan pandai besi. Dan segeralah, para pandai besi dan simpatisannya akan protes, enak saja, apa dosa saya sebagai pandai besi? Sehingga saya tidak boleh dijadikan teman? Jangan menghina saya dong, memangnya saya buruk? Jika kalimat2 ini tidak dijelaskan hadist Nabi, di dunia maya hari ini, mulai dari website berita, jejaring sosial, respon yang paling mungkin justeru sejenis ini.

Lantas apakah kalimat tersebut memang sedang menistakan pandai besi? Menghinakan posisinya? Sungguh Rasul Allah terlalu mulia untuk melakukannya, dan jelas Rasul tidak sedang menghina pandai besi.

Kalimat ini NETRAL sekali.

Hanya perumpamaan, hanya sebuah penjelasan, sebuah permisalan. Jika kalian berteman dengan A, maka A. Jika kalian berteman dengan B, maka B. Jika kalian makan cabe, maka pedas (lazimnya), jika makan garam, maka asin (lazimnya). Silahkan pikirkan konsekuensi tersebut. Karena jarang terjadi, makan cabe dapatnya asin, makan garam dapatnya pedas. Netral sekali, sebuah ilustrasi yang sangat sederhana dan akurat. Apakah makan cabe lebih baik dibanding makan garam? Tentu tidak, karena itu pilihan netral. Silahkan.

Nah, dengan sedikit kemampuan analogi, kemampuan memikirkan contoh lain yang sejenis, kita disuruh berpikir. Think! Apakah kita bersedia berteman dengan orang2 yang suka mabuk2an? Berzina? Ngobat? Atau kita mau berteman dengan orang2 yang rajin belajar, giat bekerja dan saleh? Kalau yang ini jelas pilihan, tidak lagi netral secara akal sehat. Situasinya ada pilihan yang lebih baik.

Hari ini, orang2 pintar semua membaca, belum selesai dibaca saja, sudah tahu semua. Tapi diakui atau tidak, tak semua orang bisa menangkap poin terpentingnya. Kenapa tidak bisa? Bukan karena bodoh. Melainkan karena terlanjur berpikir negatif dan tersinggung. Saya kasih contoh, misalnya saya menulis: murid2 yang cemerlang tidak akan lahir dari sekolah dgn guru2 rakus, dikit2 jadi lahan bisnis, seragam, jalan2, jadi bisnis semua; Tapi murid2 yang cemerlang akan lahir dari sekolah dgn guru2 yang tulus, penuh pengorbanan, dicintai dan mencintai muridnya.

Kalimat tersebut lurus sekali. A benar, B benar, A dan B berhubungan, konklusi benar. Lantas kenapa ada yang marah2, ngamuk, langsung berseru: jangan menghina guru dong, jangan merendahkan guru, memangnya Anda dulu tidak punya guru? dasar tidak tahu terimakasih. Aduhai, siapa yang sedang merendahkan siapa? Jika kita terlanjur tersinggung, maka kalimat bersahaja sekalipun tetap saja terasa menyakitkan. Hingga lupa, dengan komen kita tersebut, kita membuka aib sendiri--bahwa kita memang dikit2 dijadikan lahan bisnis. Coba baca lagi kalimat tersebut, dengan menghela nafas lapang, pasti berbeda rasanya.

Saya kasih misal lainnya: "Selamat kepada KPK yang terus menangkapi koruptor, terus berjuang menebaskan pedang keadilan, habisi koruptor." Kalimat ini lagi2 lurus sekali. A benar, B benar, A dan B berhubungan, konklusi benar. Masa' saya menulis: "Hancurlah KPK, semoga dibubarkan, mari bela koruptor." Itu jelas ngaco kalimatnya, bolehlah orang2 protes. Tapi kenapa dengan kalimat2 benar tersebut tiba2 banyak (sekali lagi saya ulangi: BANYAK) yang tiba2 komentar marah2, tersinggung, menyerang KPK, menghina KPK, bahkan tidak ketingalan memaki saya, aduh, ini kan membingungkan sekali. Di mana letak salahnya kalimat tsb? Soal tuduhan KPK itu tebang pilih, agen SBY, dsbgnya, duh, kita tidak sedang membahas hal tsb dalam kalimat. Saya tahu, orang2 berpikiran negatif dan mudah tersinggung itu memang suka kemana2 mikirnya, tapi mbok ya jangan kejauhan, terlanjur tidak satu frekuensi. Beda zona waktu.

My dear anggota page, jangan mudah sekali marah2 hanya karena postingan orang lain. Karena berpikir negatif, mudah sekali tersinggung, hanya akan membuat hati kita membatu. Mengeras. Dan kita kehilangan kesempatan memperoleh hikmah tersembunyi.

Terakhir sebagai penutup, biar ada korelasinya dengan pembuka catatan ini, jika kalian mau jadi penulis, belajarlah dari gaya bahasa Al Qur'an dan Hadist nabi, itu adalah sumber belajar menulis yang menakjubkan. Seandainya saja kemampuan bahasa Arab saya se-level native speaker, mother tongue, saya akan menuliskan sajak2 di page ini dalam bahasa Arab saja. Tapi baiklah, cukup dari membaca terjemahannya saja sudah sangat menakjubkan. Pun jika kalian mau menjadi pembaca yg mampu menyulam kata dengan baik, banyak2lah membaca Al Qur'an dan hadist Nabi--bukan membaca status dan tweet.

Demikian. Sangjurupati

7 PERATURAN JATUH CINTA



Kalian harus menguasai 'peraturan jatuh cinta' sbb:

1. Jatuh cinta itu memulainya amat mudah, tapi menghentikannya susah payah.

Pahami peraturan sederhana ini. Buat kalian yang belum pernah jatuh cinta mungkin tidak tahu, tapi buat yang sekarang lagi patah hati, mereka sudah level S-3 atau profesor pahamnya. Maka, kalau kalian percaya dengan peraturan ini, berhati2lah selalu untuk jatuh cinta, bukan sebaliknya, malah asyik bermain dengan perasaan. Jangan coba2 membuka bendungan hati kalian, nanti jebol tidak terkendali.

2. Jatuh cinta itu tidak pernah rumit. Sederhana. Selalu sederhana. Tapi orang2nya lah yang membuat rumit.

Camkan baik2. Lagi2, buat kalian yang belum pernah jatuh cinta mungkin tidak paham, tapi besok lusa, ketika kalian mencemplungkan diri dalam urusan ini, ingat peraturan tersebut. Kitalah yang selalu membuat rusuh, galau, ribet, bego diri sendiri. Jatuh cintanya sih nggak. Cinta itu selalu simpel. Orang2nya yg rumit. Dalam urusan yang sudah pasti sekalipun orang2 tetap saja membuat rumit, apalagi dengan perasaan tidak jelas, hubungan tdk lurus, lebih rumit lagi.

3. Cinta itu bisa redup, bahkan padam, pun juga bisa menyala tinggi. Tergantung kita.

Bohong banget kalau cinta orang itu terussss saja menyala tinggi. Itu hanya trik pemasaran film, buku2, dsbgnya. Dilebih2kan, biar yang nonton atau baca senang hatinya. Cinta itu persis seperti api unggun. Kita sendiri yang menentukan apakah api unggun itu akan terus menyala atau padam. Nah, kebanyakan, orang2 bahkan sukarela menyiram api unggunnya dengan minyak tanah sekontainer, maka menyala tinggilah dia sesaat, membakar dirinya sendiri, merusak. Tanpa sempat berpikir, apakah perasaannya itu sungguhan atau karena dia tidak mampu mengendalikan diri. Tanyakan ke orang tua kalian, yang membuat pernikahan itu awet hingga 50 tahun, bukan karena cintanya terus menyala tinggi. Tapi karena mereka punya komitmen, kepercayaan. Dengan dua hal tsb mereka memutuskan untuk jatuh cinta lagi, jatuh cinta lagi pada suami/istrinya hingga bertahan puluhan tahun.

4. Jatuh cinta itu tidak bisa membuat kenyang. Pun, jatuh cinta tidak bisa membuat kita produktif.

Saya serius. Memang betul, orang2 bisa saja enggan makan saat hatinya sedang riang karena cinta. Tapi itu tidak membuat kenyang. Come on, lebih penting krisis kelaparan di negara Afrika sana dibanding krisis cinta satu dunia. Jika kalian paham peraturan ini, maka kalian akan tahu: ada banyak hal lebih penting dibandingkan urusan jatuh cinta. Juga benar, orang2 yang jatuh cinta memang lebih kreatif, lebih semangat, tapi itu tidak membuatnya otomatis produktif. Saat dia berhasil membuat novel, lagu atau karya2 monumental, itu karena ybs sendiri memang produktif, bukan karena perasaan tsb. Coba saja lihat, milyaran orang2 jatuh cinta, tdk semuanya jadi pencipta karya masterpiece.

5. Jatuh cinta itu harus diuji, bukan diterima apa adanya

Hari ini, banyak sekali orang2 yang mudah jatuh cinta, lantas bilang, telah kuberikan segalanya untuknya. Aduh, kalian kebanyakan nonton film atau baca buku tentang cinta deh. Jatuh cinta itu butuh diuji, habis2an. Bukan dengan tangan terbuka malah diterima begitu saja. Bahkan dalam fase paling awal, ketika perasan itu mulai berkecambah di hati. Jika kalian menyukai orang lain misalnya, maka silahkan diuji. Minimal uji dengan waktu dan jarak. Apakah perasaan tsb memang semakin besar atau semakin kecil. Habis2an diujinya. Bila perlu disimpan dalam hati selama bertahun2. Jika memang jodohnya, pasti akan jadi. Bukan malah terlihat murahan banget. Di jejaring sosial, berceceran, tumpah bikin becek di mana2 perasaan kita.

6. Jatuh cinta itu bukan alat pembenaran diri.

Contoh paling kacau adalah ketika dua orang sesama jenis bilang mereka jatuh cinta dan maksa menikah? Hello, memangnya dengan kata cinta kita bisa menganulir berjuta peraturan dunia? Bilang semuanya jadi oke dan dibenarkan. Hei, 'cinta' itu bukan argumen. Maka juga saat ada pasangan beda agama ingin menikah, 'cinta' itu bukan alat pembenaran, yang kemudian membuat gugur peraturan lainnya. Kalau pengin melanggar peraturan agama, langgar saja, tidak perlu bawa2 kata cinta. Pahami peraturan ini, cinta bukan alat pembenaran, buat kalian yang mencemplungkan diri dalam perasaan ini, maka 'cinta' bukan alasan kalian menyerahkan segalanya, 'cinta' bukan pembenaran untuk disakiti, 'cinta' bukan pembenaran untuk merusak diri sendiri. Please, jangan mau dibuat bego.

7. Kita yang mengendalikan perasaan, bukan sebaliknya.

Pahami peraturan ini baik-baik. Mau seheboh apapun perasaan itu, kitalah yang mutlak mengendalikan kemudi perasaan. Jangan ijinkan perasaan mengambil-alih. Gunakan akal sehat. Kalian harus tahu, utk orang yang jatuh cinta, bahkan saat yg dicintainya itu jahat, dia tetap saja merasa baik. Saat yg dicintainya itu berkhianat, selingkuh, dia tetap saja punya alasan atau penjelasan baiknya. Padahal, orang sedunia juga tahu itu tindakan bodoh. Kenapa tetap dilakukan? Karena dia membiarkan perasaan mengendalikan akal sehatnya. Jika kita tidak mampu utk mengendalikan kemudinya, minta pendapat orang lain, seperti orang tua, sahabat baik, dengarkan nasehat mereka, bukan sebaliknya.

Silahkan pahami 7 peraturan jatuh cinta ini.  Sangjurupati

Rabu, 08 Januari 2014

SAJAK SAAT KITA...

Saat kita mandi,
Rambut basah hanya bertahan paling hitungan menit
Apalagi badan basah, segera kering dilap dengan handuk
Tapi rasa segar tersisa berjam-jam kemudian
Itulah hakikatnya

Saat kita membaca buku,
Membalik halaman demi halaman paling hanya hitungan jam
Mungkin jika buku tebal, butuh ber-hari-hari
Tapi pengetahuan dan inspirasi tertinggal lama di kepala
Itulah sejatinya

Saat kita menyiramkan air ke atas pot bunga
Segera meresap dan kering tanahnya
Tidak bersisa airnya entah pergi kemana 
Tapi bunga itu tumbuh subur dan merekah esok lusa
Itulah poin terpentingnya

Maka,
Kebersamaan mungkin hanya sebentar saja
Dunia ini pasti dihabisi oleh waktu
Dan catatan kisah hilang ditelan sejarah
Tiada yang tahu betapa indah cerita itu
Siapa peduli satu cinta di antara milyar?
Tapi tidak mengapa, kenangan akan tertinggal
Itulah hakikatnya


Dipost Oleh Sangjurupati